Rabu, 16 Januari 2008
Bagindo Aziz Chan
Mengenang Pahlawan Nasional Bagindo Aziz Chan
Tulisan ini berasal dari majalah resmi pemerintah “Madjalah Penerangan Sumatera Tengah” No. 112, 15 Djuli 1953, tahun IV dengan judul tulisan “PAHLAWAN NASIONAL AZIZ CHAN”
Melihat judul tulisan di atas serta suara-suara yang berkembang belakangan ini agar beliau diusulkan sebagai “Pahlawan Nasional”, hemat penulis sebelum permintaan itu disampaikan, ada baik diteliti terlebih dahulu mengapa sampai ada judul majalah pemerintah tahun 1953 itu seperti demikian. Walikota Padang Pertama Pemerintah Inggris di London mengumumkan akan menarik pasukannya dari seluruh wilayah Indonesia mulai tanggal 30 Nopember 1946. Sementara itu pihak Belanda atau yang lebih dikenal dengan sebutan NICA (Netherland Indies Civil Administration) yang semula membonceng pendaratan pasukan Sekutu (baca Inggris) ke Indonesia untuk melucuti serdadu Jepang yang kalah perang, mengambil alih kekuasaan di daerah-daerah yang ditinggalkan pasukan sekutu (Inggris) tersebut. Di antara yang diambil alih itu ialah Kota Padang. Pahlawan Nasional Bagindo Aziz Chan Di kota yang dipenuhi pasukan asing (termasuk serdadu Belanda) inilah Bagindo Aziz Chan ditugaskan sebagai Wali Kota oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sungguh penempatan yang amat berani, penuh resiko, bahkan dapat dikatakan tidak masuk akal. Mengenai dipilihnya Bagindo Aziz Chan selaku Wali Kota Padang ini, buya Hamka mengatakan: Setelah Pemerintah Belanda meluaskan kekuasaan di kota Padang dan sekitarnya, TRI (Tentara Republik Indonesia) mundur ke daerah “darat” (pedalaman), namun tempat-tempat penting masih dalam kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia. Ketika dipertimbangkan siapa yang akan diangkat menjadi Wali Kota Padang, sebab markas tentara dan Pemerintah Republik telah dipindahkan ke Bukit Tinggi, seorang pun tidak ada yang berani. Akhirnya jatuhlah pilihan kepada Bagindo Aziz Chan. Jabatan penting yang berbahaya ini, diterima beliau dengan ucapan Bismillah. Berunding Dengan Sekutu Baru beberapa hari memangku jabatan selaku Wali Kota Padang, atas gagasannya diadakan perundingan dengan pihak sekutu (Inggris). Perundingan mana berlangsung pada tanggal 15 Agustus 1946. Masalah yang dibicarakan ialah mengenai keamanan kota, keselamatan warga kota sehubungan keberadaan pasukan asing tersebut. Pihak Republik diwakili oleh Gubernur Muda Dr. M. Djamil, Kepala Polisi Sumatera Barat Azhari dan Wali Kota Padang Bagindo Aziz Chan. Sedangkan pihak Sekutu oleh Brigadir Thomson , Mayor Fisher dan Kapten Gilman. Dalam perundingan itu pihak Sekutu berjanji akan berkerja sama sepenuhnya dengan pihak Indonesia, terutama dalam menjaga keamanan kota Padang. Dibicarakan pula hal-hal lain seperti pos, perkereta-apian, kepolisian dsb. Pengungsian Besar-Besaran Sungguhpun telah disepakati, pelanggaran demi pelanggaran tetap saja terjadi, terutama dari pihak Sekutu. Rentetan senapan mesin, dentuman mortir, granat tangan serta penangkapan terhadap yang mereka curigai “ekstremis”, sudah merupakan bagian tidak terpisahkan dari kejadian sehari-hari yang dialami penduduk kota Padang. Sebagai misal peristiwa tanggal 27-28 Agustus 1946, terjadi bentrokan senjata secara sporadis yang nyaris menghanguskan kota Padang. Semenjak itu terjadilah pengungsian besar-besaran dari kota Padang ke daerah pedalaman. Mulai Dikuasai Nica Sumber: Walau fakta menunjukkan kota Padang adalah daerah Republik Indonesia, dibuktikan dengan duduknya seorang Walikota yang republik pula, namun pihak Sekutu, tetap saja menyerahkan pemeriksaan atau nasib orang-orang republik yang mereka tangkap kepada pihak Belanda. Hal mana terbaca dalam surat sbb:
Kepada tuan Aziz Chan. Beberapa orang Indonesia yang dipenjarakan (Sekutu) dihadapkan ke depan pengadilan Belanda pekan ini (6-9-46). Apakah tuan bermaksud akan memberikan mereka hakim pembela? dto - Cooper.
Walikota Padang membalas surat tsb sbb:
Tuan Cooper Hq Padang BBE. Pemerintah Republik saya tidak mengizinkan pemeriksaan macam manapun oleh Belanda. Pucuk pimpinan tentara Sukutu sepatutnya menyerahkan perkara itu kepada Pengadilan Indonesia. Sesungguhnya saya bersama ini memprotes. Walikota Padang, (dto. Aziz Chan).
Protes ini tidak digubris pihak Sekutu. Yang diizinkan hanyalah mengantarkan makanan untuk para tahanan saja. Menjelang Linggarjati Semenjak tanggal 30 Nopember 1946, daerah-daerah yang ditinggalkan (lebih tepat diserah-terimakan) pihak Sekutu, praktis dikuasai sepenuhnya oleh militer Belanda (baca Nica). Sudah barang tentu dalam mencengkramkan kekuasaan lebih dalam dan lebih luas lagi, pihak Belanda tidak segan-segan melakukan teror dan penangkapan-penangkapan terhadap orang-orang yang mereka anggap berseberangan dengan tuduhan “ekstremis”. Tanggal 9 Desember 1946 Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin, Letnan Jendral Urip dan Dr. AK. Gani tiba di Padang untuk membicarakan garis demarkasi gencatan senjata dll dengan pihak Belanda, sesuai isi naskah Linggarjati yang telah diparap. Bagindo Aziz Chan ikut dalam pembicaraan tersebut. Hasilnya ialah komunike bersama antara lain sebagai berikut:
1. Daerah primeter sekeliling kota Padang akan dikosongkan seluruhnya oleh TRI dan Barisan yang bersenjata mulai tanggal 31 Desember 1946 pukul 24.00.
2. Semua pos tentara Belanda yang ditambah sesudah tanggal 14 Oktober 1946 akan dicabut.
3. Untuk melaksanakan hal tersebut di atas, TRI (Tentara Republik Indonesia) dan tentara Belanda memerintahkan penghentian pertempuran dan menghindarkan segala kemungkinan pertikaian bersenjata.
4. Polisi NRI (Negara Republik Indonesia) bersenjata secukupnya di dalam kota Padang akan diperluas kekuasaannya, sehingga dapat menjalankan kewajibannya menjaga keamanan dengan sebaik-baiknya. Untuk mana akan diadakan perundingan lebih lanjut.
5. Polisi NRI berhak mengadakan perondaan di daerah perondaan tentara Belanda.
6. Opsir penghubung akan diadakan di pihak tentara Republik Indonesia dan pihak Belanda.
Perundingan selanjutnya diadakan pada tanggal 17-18 Desember 1946 antara Wali Kota Padang dengan pihak Belanda, tetapi tidak mencapai hasil yang nyata karena pihak Belanda tidak memberikan jawaban yang masuk akal terhadap tiga pokok masalah penting yang menyangkut komunike di atas, yaitu:
1. Soal tahanan Indonesia yang harus diserahkan kepada pembesar Indonesia.
2. Soal jumlah anggota polisi NRI di Kota Padang.
3. Soal persenjataan polisi.
Dalam perundingan itu pihak Belanda mengatakan, merekalah yang bertanggung-jawab soal keamanan dalam garis demarkasi. Sedangkan pihak Indonesia mengatakan, soal keamanan warga Indonesia di dalam garis demarkasi hanya oleh polisi NRI dan tidak oleh pihak Belanda.
Tanggal 30 Desember 1946 diadakan lagi perundingan tentang “Joint Truce Commission” atau “Komisi Bersama Gencatan Senjata”. Pihak RI diwakili Wali Kota Padang, Letkol Halim, Iskandar Tejasukmana, Kepala Polisi Darwin Karim dan dihadiri pula Gubernur Sumatera Tengah serta beberapa orang lain selaku peninjau. Sedangkan di pihak Belanda De Boer, Letkol van Erp, Mr. van Straten, Kapten Warnaar serta beberapa opsir peninjau. Perundingan ini adalah lanjutan dari perundingan sebelumnya pada tanggal 11 Desember 1946 antara Menteri Pertahanan RI dengan pihak Belanda. Namun dalam kurun waktu antara tanggal 11 dan 31 Desember 1946 itu, pihak Belanda selalu memungkiri dan menyabot pokok-pokok persetujuan yang telah dibuat. Pada perundingan akhir Desember 1946 tsb, pihak Belanda mengatakan soal garis demarkasi tidak ada sangkut pautnya dengan soal memperkuat Pemerintah NRI di kota Padang. Sedangkan pihak Republik menegaskan sebaliknya dengan berbagai bukti. Begitu pula soal kepolisian, pihak Belanda tetap bersikeras menolaknya, walau pihak RI telah mengurangi usulnya yang semula seribu orang yang menjadi lima ratus polisi. Terjadilah dead lock. Pihak Belanda mengultimatum. TRI dan Barisan Rakyat harus keluar dari dalam garis demarkasi sebelum pukul 24.00 malam itu juga, jika tidak akan digempur. Ultimatum itu ditolak oleh pihak RI dengan menegas “jika dijual tetap akan dibeli”. Saat penggantian tahun 1946-1947 kembali berkecamuk pertempuran di sekitar kota Padang. Indaruang dan Lubuk Bagaluang yang dihujani peluru mortir dan meriam. Dan pada siang hari di bom dan ditembaki pula dari udara. Tidak seperti biasanya yakni dengan kembang dan petasan, pesta tahun baru malam itu dimeriahkan dengan detuman peluru meriam, mortir, granat, senapan mesin baik dari pihak Belanda maupun balasan pihak Republik. Tanggal 8 Januari 1947 pihak Belanda meminta agar perundingan dibuka kembali. Untuk menunjukkan goodwill (niat baik), permintaan tersebut diterima pihak Republik. Perundingan dilangsungkan tanggal 10 Januari 1947. Pihak Indonesia diwakili oleh Bagindo Aziz Chan, St. M. Djosan, Dr. M. Djamil, Urangkayo Gantosuaro dan Samsu Anwar. Sedangkan pihak Belanda diwakili De Boer, Van Sraten dan Kapten Warnaar. Masalah yang dibicarakan ialah penghentian tembak menembak, garis demarkasi, polisi NRI serta masalah tahanan. Dalam memaksakan kehendaknya, pada tanggal 11 Januari 1947 pihak Belanda menekan dengan menjatuhkan bom dan menembaki Pasa Usang yang letaknya sekitar 30 km dari kota Padang. Namun delegasi Republik tidak bergeming dengan intimidasi tersebut. Setelah melalui perdebatan sengit, pembicaraan berakhir dengan sebuah rencana kesepakatan. Usul jumlah personil polisi 500 orang diterima pihak Belanda. Tanggal 12 Januari 1947 kesepakatan tsb ditanda tangani, dari pihak RI oleh Bagindo Aziz Chan. Anas Tanggal 18 Januari 1947 berunding lagi untuk cara melaksanakan kesepakatan yang telah ditanda-tangani. Karena masalah yang dibicarakan banyak menyangkut soal kemiliteran, diusulkan untuk diserahkan kepada Komandan Militer masing-masing. Dari pihak RI oleh Kolonel Ismael Lengah, sedangkan di pihak Belanda Kolonel Sluyters. Mengenai masalah sipil seperti kehakiman, diputuskan kedua belah pihak mengirim utusan ke High Level Joint Truce Commission di Jakarta. Linggarjati Ditandatangani Setelah Naskah Linggarjati ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947, boleh dikatakan suasana di kota Padang lebih lega dari hari-hari biasa. Lalu pada tanggal 3 April 1947 dirundingkan kembali mengenai penentuan garis demarkasi serta urusan Pemerintahan Sipil. Perundingan mana dilanjutkan lagi pada tanggal 8 April 1947. Hasilnya ialah Pemerintahan Sumatera Barat sejak dari tanggal tersebut dipindahkan kembali ke kota Padang. Residen Sumatera Barat buat sementara 3 hari di Padang dan hari-hari berikutnya di Bukittinggi, karena sebagian besar jawatan keresidenan berada di Bukittinggi. Pihak Belanda menyetujui polisi RI bersenjata lengkap masuk dan sekalian tinggal di kota Padang. Selain itu pihak Belanda menyerahkan kembali sebagian senjata polisi yang dulu dirampas oleh pihak Sekutu (baca Inggris). Sepintas tampaknya perdamaian benar-benar akan terujud. Akan tetapi tak lama kemudian terjadi pula berbagai pelanggaran. Kepala Polisi kota Padang Johny Anwar bersama 4 orang stafnya ditangkap Polisi Militer Belanda. Setelah diprotes Bagindo Aziz Chan, dibebaskan kembali. Dalam perundingan dengan pihak RI yang diketuai Residen SM. Rasyid, dibentuklah sebuah Panitia Kerja yang diketuai oleh Wali Kota Padang Bagindo Aziz Chan. Semenjak itu mulai kembali dilakukan pemungutan pajak-pajak penghasilan kota, seperti pajak tontonan, kendaraan dsb. Selanjutnya pada tanggal 21 April 1947 kereta api masuk kembali ke stasion Padang. Buat sementara sekali dalam sehari dan akan diatur kembali pada tanggal 1 Mei 1947. Dalam masalah perkereta-apian ini Wali Kota Padang mendapat ucapan selamat dari Menteri Penerangan RI Moh. Natsir yang mengatakan, “hal itu adalah langkah awal dalam melaksanakan Pasal 1 naskah Linggarjati”. Tanggal 3 Mei 1947 diadakan lagi perundingan untuk menetapkan garis demarkasi yang masing-masing pihak diwakili oleh Kolonel Ismail Lengah dan Kolonel Sluyters serta dihadiri pula oleh Wali Kota Padang. Dalam suasana “de facto” itu, kegembiraan masyarakat kota Padang mencapai puncaknya, apalagi saat dikunjungi oleh rombongan Gubernur Sumatera serta Mayor Jenderal Suharjo. Ibarat sebuah kapal dengan dua nahkoda yang saling bermusuhan, pihak Belanda mulai pula mencari gara-gara. Tak salah peribahasa mengatakan “habis berhalur maka beralu”, tampaknya pihak Belanda ingin menyelesaikan soal Indonesia dengan cara kekerasan atau perang. Ini terlihat dengan meningkatnya kekuatan militer Belanda di seluruh daerah Republik Indonesia, tidak terkecuali Kota Padang. Walau suasana muram mulai menyelimuti seluruh daerah Republik Indonesia termasuk kota Padang, tanggal 9 Juni 1947 masih saja diadakan perundingan antara Kolonel Ismail Lengah dan Kolonel Sluyters membicarakan masalah insiden-insiden kecil yang terjadi sekitar garis demarkasi. Perang Kemerdekaan Pertama Kabinet Syahrir jatuh dan pada tanggal 3 Juli 1947 terbentuk Kabinet Amir Syarifuddin yang segera dihadapkan pada tuntutan yang lebih merupakan ultimatum dari pihak Belanda. Mereka menuntut antara lain mengadakan Gendarmerie (sejumlah pasukan yang bertindak sebagai polisi militer atau pengawas) bersama dalam menjaga keamanan di daerah-daerah strategis Republik Indonesia di Jawa dan Sumatera. Usul ini ditolak oleh BP-KNIP (Badan Pekerja - Komite Nasional Indonesia Pusat) dan Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 17 Juli 1947. Tanggal 17 Juli 1947 Wakil Presiden Moh. Hatta tiba kembali di Bukittinggi setelah mengadakan kunjungan rahasia ke India menemui Pandit Nehru dan M. Ali Jinnah. Aziz Chan Dibunuh Tanggal 19 Juli 1947 hari kedua puasa, militer Belanda menembak mati Bagindo Aziz Chan di kawasan Nanggalo. Hari itu sekitar pukul 5-6 petang dengan berkendaraan mobil Bagindo Aziz Chan bersama keluarga sedang menuju Padang Panjang. Di kawasan Purus mereka dihadang militer Belanda yang dikomandani Letkol Van Erp. Bagindo Aziz Chan diperintahkan naik ke sebuah jeep dan langsung dibawa ke Nanggalo dalam garis demarkasi Belanda. Menurut keterangan pihak Belanda di daerah itu telah terjadi suatu insiden. Sampai di suatu tempat di kawasan itu jeep berhenti, Bagindo Aziz Chan turun untuk memeriksa apa yang dikatakan insiden oleh militer Belanda tsb. Tiba-tiba sebutir peluru menerjang lehernya dan seketika itu juga beliau tersungkur dan menghembuskan nafas yang penghabisan. Segera jenazah Aziz Chan dibawa ke rumah sakit Padang. Mulanya cerita seperti itulah yang terebar di kalangan masyarakat yang ternyata kemudian tidaklah demikian. Tidak ada keterangan pihak Belanda dari pihak mana peluru yang menyebabkan kematian itu berasal. Begitu pula hari itu di kawasan tersebut tidak ada terjadi kontak senjata. SumberJenazah Dikawal KNIL Kematian Wali Kota Padang tersebut segera merambah ke daerah pedalaman (daerah Republik Indonesia). Residen Sumatera Barat St. Muh. Rasyid, Chatib Suleiman, Marzuki Yatim, Dr. Rahim Usman, Jamalus Yahya, Hamka, Mayor A. Thalib bersama keluarga almarhum setelah sahur langsung berangkat menuju Kota Padang. A Sekitar pukul 05.30 pagi sampailah rombongan tsb di setasiun kereta api Tabing. Kepala Polisi T.A. Sani segera mengadakan kontak dengan pos terdepan militer Belanda di seberang garis demarkasi Padang. Sementara itu terdengar gemuruh dentuman meriam dan mortir yang ditembakkan militer Belanda entah dengan maksud apa. Satu jam kemudian, barulah rombongan tsb diizinkan masuk ke dalam kota Padang dengan syarat tidak membawa senjata. Karena itu Mayor Thalib tidak ikut, demikian pula Residen Sumatera Barat Mr. St. M. Rasyid. Rombongan yang dikawal ini dihentikan pula sekitar satu jam di depan markas militer Belanda dan barulah setelah itu diantarkan ke rumah almarhum Bagindo Aziz Chan. Di rumah duka inilah jenazah almarhum disemayamkan dan dikawal pula oleh sepasukan KNIL (serdadu Belanda yang direkrut dari pribumi), tak obahnya seperti pahlawan Belanda yang gugur di medan laga. Tampak di belakang telinga almarhum sebuah lobang bekas terjangan peluru dan kepala beliau pecah seperti dipukul benda keras. Selesai mempersiapkan segala sesuatu, jenazah almarhum dibawa dengan kereta api ke Bukittinggi dan sampai di kota ini pada malam berikutnya. Pukul 06.00 pagi tanggal 21 Juli 1947 Van Mook mengumumkan “aksi polisionil” terhadap RI. Malam itu juga sekitar pukul 21.00, jenazah almarhum diotopsi oleh empat dokter untuk memastikan sebab kematian beliau. Dari hasil pemeriksaan jenazah disebutkan, bahwa kematian almarhum disebabkan oleh pukulan benda berat di kepala. Pukul 2 malam itu juga jenazah almarhum dikebumikan di Taman Bahagia (Taman Pahlawan) Bukittinggi dengan suatu upacara besar penuh haru. Siapa Bagindo Aziz Chan Bagindo Aziz Chan adalah salah seorang murid atau pengikut setia Haji Agus Salim. Setelah menamatkan AMS-B di Betawi, Bagindo Aziz Chan memasuki gerakan politik melalui PSII dan dilanjutkan ke Penyadar bersama Haji Agus Salim. Untuk biaya hidup sehari-hari Bagindo Aziz Chan mengajar di beberapa sekolah partikelir. Beliau menikah dengan seorang gadis teman sekolahnya yang kemudian diboyong ke Sumatera Barat. Selama di Sumatera Barat ia pernah mengajar di Islamic College, Normaal Islam Padang, Balai Pendidikan PSII Batu Hampar dan MIK Bukit Tinggi. Pada awal pembentukan Pemerintahan Republik Indonesia di Sumatera Barat, ia aktif pada Komite Nasional Sumatera Barat. Kemudian terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Sumatera. Ketika di Dewan Perwakilan Sumatera inilah beliau ditunjuk menjadi Wali Kota Padang. Mengenai almarhum Bagindo Chan ini Hamka mengatakan lagi:
Beliau adalah seorang Muslim yang taat yang boleh dikatakan dekat kepada fanafik. Bila berkata-kata, baik dalam berbagai pertemuan atau berpidato di depan umum, senantiasa keluar dari mulut beliau “Alhamdullah, Bismillah dan Insyaallah”. Demikian pula dalam surat-suratnya selaku Wali Kota Padang, selalu dimulai dengan Assalamualaikum. Agama Islam tidak boleh dilecehkan dihadapannya. Para pemimpin yang mengaku pemuka Islam, tetapi satu kali kelihatan olehnya tidak jujur dihantamnya, bahkan dimakinya. Matanya besar menantang tetapi terbayang kejujuran. Sebelum syahid ia sempat mendirikan Partai Syarikat Islam Indonesia di kota Padang dan ia sendiri menjadi ketuanya. Ia selalu menganjurkan supaya kaum saudagar meramaikan kota Padang dan memulai perjuangan ekonomi, karena pada akhirnya perlawanan dengan Belanda akan berhenti dengan penyelesaian juga.
Dalam suatu siaran pers ketika diangkat sebagai Wali Kota Padang, almarhum Bagindo Aziz Chan mengatakan:
Tanggal 16 menghadap 17 Ramadhan berdekat dengan turunnya Alquranulkarim sebagai kurnia Allah Subhanahuwata'ala, dalam suatu kerapatan lengkap badan pemerintahan resmi Sumatera Barat, dengan persetujuan suara bulat dari pada hadirin, saya telah diangkat memangku jabatan Wali Kota Padang. Keangkatan ini saya terima dan saya sambut dengan ucapan hati “Allahu Akbar, fi-Sabilillah” atas kepercayaan pemerintah kita telah menyerahkan pimpinan kota Padang kepada saya. Hanya Allah yang lebih mengetahui betapa hebat dan gentingnya keadaan dan saya sungguh banyak-banyak mengucapkan terima kasih. Tegur sapa, nasehat dan bantuan saudara-saudara semuanya lahir dan bahtin saya harapkan dengan sangat. Kepada Allah juga kita mohon taufik hidayat dan kepada-Nya juga kita memulangkan segala jasa dan puji, Insyaallah. Bukit Tinggi, 15 Agustus 1946 - dto. Bgd. Aziz Chan.
Dalam suatu wawancara, Bagindo Aziz Chan mengatakan:
Masalah kota Padang ini harus dihadapi dengan suatu rencana yang nyata dan perbelanjaan yang cukup. Harus ditambah lagi dengan pegawai-pegawai yang telah diseleksi, tabah dan patuh setia pada perjuangan Republik Indonesia. Semenjak awal bulan Januari 1947, pemerintah telah dapat menjamin makanan untuk penduduk dan pegawai RI di kota Padang yang berjumlah lebih kurang sepuluh ribu jiwa. Makanan itu dibagikan dengan cuma-cuma untuk meringankan kesengsaraanrakyat.
Bagindo Aziz Chan Pahlawan Nasional05/11/2005Padang Pemerintah akhirnya akan mengkukuhkan pejuang kemerdekaan di Kota Padang, Bagindo Azis Chan, sebagai Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November mendatang. "Mantan Walikota Padang yang gigih menentang penjajahan Belanda itu dinilai layak menjadi Pahlawan Nasional, sehingga pemerintah pun akan mengukuhkannya," ujar Walikota Padang, Fauzi Bahar, kepada pers di Padang, Sabtu. Pengukuhan Bagindo Azis Chan menjadi Pahlawan Nasional, menurut dia, tidak terlepas dari berbagai usulan, baik melalui seminar maupun tulisan-tulisan atau pemberitaan media massa selama periode kepemimpinan walikota mulai Hasan Basri Durin, Syahrul Wujud, Zuiyen Rais, dan Plt O.S Yerly Asir. "Pengukuhan itu penting untuk menghargai segala sepak terjang dan jasa-jasa Bagindo Azis Chan yang berjuang membela Kota Padang dari cengkraman penjajahan Belanda," katanya. Pada kesempatan itu Fauzi Bahar juga kembali menyebut sumpah Bagindo Azis Chan yang berbunyi; "Langkahi dulu mayatku, baru Belanda boleh masuk Kota Padang". "Sumpah itu ternyata kemudian ia bayar tunai dengan pengorbanan jiwanya," kata dia. Lebih jauh Fauzi menjelaskan, pada 8 November ia berangkat dari Padang menuju Jakarta, pada 9 November ahli waris keluarga Bagindo Azis Chan menerima penghargaan pengukuhan itu dan pada tanggal yang sama dirinya sudah kembali ke Padang. "Kita akan melaksanakan 'long march' atau mengarak pengukuhan Bagindo Azis Chan itu mulai Ladang Padi -Taman Hutan Raya (Tahura) Bung Hatta hingga ke perempatan Jl Bagindo Azis Chan Lapai Padang, guna mengingat sejarah lokasi ditembaknya pembela Kota Padang itu oleh penjajah Belanda," katanya. Selain itu Pemko Padang juga menggelar lomba penampilan berpakaian pejuang 'tempo doeloe' diikuti atribut bambu runcing dan senjata lainnya, akan diikuti puluhan peserta dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sejarah mencatat Bagindo Azis Chan yang belum cukup seminggu menjabat sebagai Walikota Padang telah menunjukkan sepak terjangnya menentang Belanda. Pada 23 Agustus 1946 sekutu melakukan operasi militer untuk menghancurkan pertahanan tentara RI di Gunung Pangilun, namun dapat dipatahkan gerilya.
Akibat perjuangan pahlawan-pahlawan Padang itu, sekutu marah, membakar rumah-rumah penduduk dan melakukan pengeledahan besar-besaran. Seluruh penduduk laki-laki ditangkap dan dikumpulkan pada tiga tempat yakni di Padang Pasir, Lapangan Dipo dan Muara Padang. Penangkapan tersebut memicu kemarahan Bagindo Azis Chan, yang bersama Kepala Polisi Kota Padang Jhoni Anwar menerjang markas Belanda dan meminta tahanan dibebaskan. Permintaan Bagindo Azis Chan dikabulkan. Pada kisah lainnya, pada 19 Juli 1947, Bagindo Azis Chan berangkat dari Padang ke Padang Panjang. Tiba di Ulakkarang Padang, kendaraan yang ditumpanginya ditahan tentara Belanda. Pembicaraan antara Belanda dengan Bagindo Azis Chan terjadi dan beberapa detik kemudian datang Komandan tentara Belanda Letnan Kolonel Van Erp. Van Erp mengatakan di Lapai telah terjadi insiden yang dilakukan ektrimis-ekstrimis Indonesia, dan Van Erp meminta Bagindo untuk menentramkan kekacauan itu. Bagindo bersedia tetapi tidak menyadari bahwa itu hanya tipu muslihat Belanda. Malam harinya Bagindo dikhabarkan oleh tentara Belanda meninggal dunia karena ditembak ekstrimis. Tetapi visum dokter di Bukitinggi membuktikan Bagindo meninggal akibat pukulan benda keras pada kepala kanan bagian belakang, sementara tiga lubang di badannya bekas tembakan yang dilakukan Belanda hanya untuk mengelabui masyarakat. Tiap 19 Juli, akhirnya diperingati sebagai hari wafatnya Bagindo Azis Chan. Namanya sendiri sudah diabadikan sebagai nama jalan dan gedung di kota Padang - ( gunawan )
Sumber : www.seketika.com
Arwin Rasyid

Arwin Rasyid LAHIR di Roma, Italia, ia kemudian melewatkan masa kanak-kanak di Swiss selama enam tahun dan Singapura lima tahun. Ketika ia pulang ke Indonesia, apa yang terjadi? Arwin Rasyid tidak bisa berbahasa Indonesia. “Saya pikir bahasa Indonesia itu bahasa Padang,” tutur Direktur Utama Bank Danamon ini. Karena sehari-hari keluarganya berbahasa Inggris dan bahasa Padang. Ayahnya seorang diplomat asal Sumatera Barat; ibunya berdarah Sumatera Barat pula. Atas dispensasi dari Departemen P&K, Arwin masuk sekolah internasional, The Gandhi Memorial School Jakarta, yang tidak memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Tapi, setelah lulus sekolah internasional itu, ayah dan ibunya menginginkan Arwin kuliah di dalam negeri. Tapi kalau ayahnya menginginkannya masuk fakultas hukum, mau sang ibu agar bungsu dari empat bersaudara itu masuk fakultas kedokteran. Padahal, Arwin berpeluang kuliah di University of New Delhi di New Delhi, India, dengan beasiswa dari The Gandhi Memorial School. Apa yang terjadi, Arwin menentukan sendiri pilihannya. Ia masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sambil mengambil kursus intensif bahasa Indonesia. “Tahun pertama dan kedua kuliah, setiap pertanyaan, saya jawab dengan bahasa Inggris,” papar MBA dari Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini. “Untung dosen UI banyak yang lulusan Amerika, seperti Emil Salim, Sri-Edi Swasono, Miranda Goeltom,” tambahnya. Saat mahasiswa, selain pernah jadi asisten Sumitro Djojohadikusumo, ia sudah aktif di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.Lulus kuliah, 1980, ia bekerja di Bank of America sambil menyebar permohonan beasiswa. Impiannya melanjutkan studi di luar negeri terwujud berkat beasiswa dari HISWA Center untuk kuliah di Universitas Hawaii, AS, selama dua tahun. Baru satu setengah tahun, ia sudah meraih gelar M.A. ekonomi; kemudian sekalian ia memanfaatkan sisa waktu dengan mengambil gelar MBA di universitas yang sama, 1982. Pulang ke Tanah Air, Arwin kembali ke Bank of America. Setelah tujuh tahun di bank tersebut, ia bekerja di Bank Niaga. Sepulang dari naik haji, 1999, ia hijrah ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai staf ahli, sampai akhirnya menjadi Wakil Ketua BPPN. Sejak Oktober 2000, Arwin dipercaya memimpin Bank Danamon.Dalam memimpin perusahaan, ia senantiasa meningkatkan kualitas karyawan, sebagai aset utama perusahaan. Caranya melalui training dan menerapkan budaya profesional, serta mengambil bankir-bankir yang profesional, supaya ada dinamika baru. Prinsip hidupnya: “Saya mau hidup tenang, tapi dengan taraf hidup sesuai dengan zaman sekarang.” Seperti yang diajarkan orangtuanya, Arwin mendidik anak-anaknya agar tidak manja. “Saya tidak pernah dimanja orangtua. Saya harus sekolah yang benar, bekerja yang benar dan keras. Orang tua hanya memberikan nilai-nilai hidup dan itu lebih penting daripada harta,” kata ayah lima anak ini. Untuk itulah, Arwin berupaya memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk ingin menyekolahkan mereka di sekolah paling top di dunia.Selain boling, Arwin hobi main squash sejak 1985. Olahraga ini bisa membuatnya berkeringat banyak tanpa mengenal cuaca, peralatannya tidak mahal, dan tidak menyita banyak waktu. Sebagai anggota Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin), ia tentunya gemar berburu. Ia juga pengoleksi berbagai senjata api terdaftar.
Bankir Pimpin Telkom
Jakarta 25/6/2005: Di luar dugaan mantan Dirut Bank Danamon dan Wakil Dirut BNI Arwin Rasyid dipercaya pemerintah menjadi Direktur Utama PT Telkom Tbk dalam RUPS, yang berlangsung di Kantor Divre II Telkom Jakarta, Jumat (24/6/2005). Alumni S1 FE-UI (1980) dan S2 (MBA) International Business-University of Hawaii, USA, itu menggantikan Kristiono yang semula dijagokan akan tetap menduduki jabatan itu.Terpilihnya Arwin, pria kelahiran Roma, Italia 22 Januari 1957, yang sebelumnya juga dicalonkan dalam bursa Dirut Indosat, di luar dugaan banyak kalangan yang menginginkan dirut Telkom dari orang dalam dan berpengalaman di industri telekomunikasi. Tidak banyak orang yang memprediksi Arwin, bankir yang dekat dengan Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informasi itu setelah gagal menjadi Dirut Indosat akan dipercaya memimpin Telkom. RUPS juga menetapkan adanya jabatan Wakil Direktur Utama yang dipercayakan kepada mantan Direktur Bisnis dan Jasa Telekomunikasi Garuda Sugardo. RUPS menyetujui susunan Dewan Direksi yang diajukan Dewan Komisaris Telkom untuk menambah jajaran direksi dari lima menjadi tujuh. Sementara susunan Dewan Komisaris tidak berubah, tetap lima orang yang dipimpin Tanri Abeng sebagai Komisaris Utama.
Adapun susunan direksi baru PT Telkom Tbk hasil RUPS 24 Juni 2005 adalah: Direktur Utama Arwin Rasyid, Wakil Dirut Garuda Sugardo, Direktur Keuangan dan Investasi Rinaldi Firmansyah, Direktur Infrastruktur dan Jaringan Abdul Haris Matondang, Direktur Korporasi dan Wholesale Aris Yahya, dan Direktur SDM dan Pengempangan John Welly.Di hadapan RUPS, Arwin bersama seluruh anggota direksi yang baru terpilih menyatakan kesediaannya menduduki jabatan ketika ditanya Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng. Arwin Rasyid mengatakan, dirinya tidak akan pura-pura menjadi orang yang mengetahui segala hal soal telekomunikasi. Namun, sebagai bankir, dia akan bekerja sama dengan seluruh direksi untuk memajukan Telkom sebagai ikon perusahaan Indonesia. Maka dia meminta diberi waktu untuk menjelaskan mengenai misi para direksi. Penjelasan tersebut akan disampaikan bersamaan dengan pengumuman kinerja kuartal II Telkom.Arwin mengatakan, Telkom menghadapi tantangan untuk meningkatkan penetrasi penggunaan telepon, terutama di pedesaan. Saat ini jaringan telepon hanya menjangkau 50 persen pedesaan di Indonesia, padahal di China mencapai 80 persen.Sementara itu, Menteri Negara BUMN Sugiharto mengatakan, Arwin Rasyid diharapkan dapat mendorong Telkom menjadi perusahaan yang memiliki kapitalisasi sebesar 33 miliar dollar AS, dari kapitalisasi saat ini yang hanya 11 miliar dollar AS. Meski tidak berpengalaman di bidang telekomunikasi, Arwin diharapkan mampu menstabilkan keuangan Telkom sebagai perusahaan terbesar yang terdaftar di pasar modal Indonesia.Bagi dividenRUPS juga memutuskan Telkom mengalokasikan dividen Rp3,06 triliun atau 50% dari laba tahun buku 2004. Sedangkan sebanyak 47% atau Rp2,7 triliun digunakan untuk pengembangan perusahaan.Selama 2004, Telkom memperoleh pendapatan operasi Rp33,95 triliun atau tumbuh 25% dibandingkan tahun sebelumnya, Rp27,12 triliun. Pada tahun 2005, Telkom Group mengalokasikan capital expenditure (capex) atau belanja modal Rp6,1 triliun untuk Telkom dan US$700 untuk anak perusahaan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
PDAT
LAHIR di Roma, Italia, ia kemudian melewatkan masa kanak-kanak di Swiss selama enam tahun dan Singapura lima tahun. Ketika ia pulang ke Indonesia, apa yang terjadi? Arwin Rasyid tidak bisa berbahasa Indonesia. “Saya pikir bahasa Indonesia itu bahasa Padang,” tutur Direktur Utama Bank Danamon ini. Karena sehari-hari keluarganya berbahasa Inggris dan bahasa Padang. Ayahnya seorang diplomat asal Sumatera Barat; ibunya berdarah Sumatera Barat pula. Atas dispensasi dari Departemen P&K, Arwin masuk sekolah internasional, The Gandhi Memorial School Jakarta, yang tidak memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Tapi, setelah lulus sekolah internasional itu, ayah dan ibunya menginginkan Arwin kuliah di dalam negeri. Tapi kalau ayahnya menginginkannya masuk fakultas hukum, mau sang ibu agar bungsu dari empat bersaudara itu masuk fakultas kedokteran. Padahal, Arwin berpeluang kuliah di University of New Delhi di New Delhi, India, dengan beasiswa dari The Gandhi Memorial School. Apa yang terjadi, Arwin menentukan sendiri pilihannya. Ia masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sambil mengambil kursus intensif bahasa Indonesia. “Tahun pertama dan kedua kuliah, setiap pertanyaan, saya jawab dengan bahasa Inggris,” papar MBA dari Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini. “Untung dosen UI banyak yang lulusan Amerika, seperti Emil Salim, Sri-Edi Swasono, Miranda Goeltom,” tambahnya. Saat mahasiswa, selain pernah jadi asisten Sumitro Djojohadikusumo, ia sudah aktif di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.Lulus kuliah, 1980, ia bekerja di Bank of America sambil menyebar permohonan beasiswa. Impiannya melanjutkan studi di luar negeri terwujud berkat beasiswa dari HISWA Center untuk kuliah di Universitas Hawaii, AS, selama dua tahun. Baru satu setengah tahun, ia sudah meraih gelar M.A. ekonomi; kemudian sekalian ia memanfaatkan sisa waktu dengan mengambil gelar MBA di universitas yang sama, 1982. Pulang ke Tanah Air, Arwin kembali ke Bank of America. Setelah tujuh tahun di bank tersebut, ia bekerja di Bank Niaga. Sepulang dari naik haji, 1999, ia hijrah ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai staf ahli, sampai akhirnya menjadi Wakil Ketua BPPN. Sejak Oktober 2000, Arwin dipercaya memimpin Bank Danamon.Dalam memimpin perusahaan, ia senantiasa meningkatkan kualitas karyawan, sebagai aset utama perusahaan. Caranya melalui training dan menerapkan budaya profesional, serta mengambil bankir-bankir yang profesional, supaya ada dinamika baru. Prinsip hidupnya: “Saya mau hidup tenang, tapi dengan taraf hidup sesuai dengan zaman sekarang.” Seperti yang diajarkan orangtuanya, Arwin mendidik anak-anaknya agar tidak manja. “Saya tidak pernah dimanja orangtua. Saya harus sekolah yang benar, bekerja yang benar dan keras. Orang tua hanya memberikan nilai-nilai hidup dan itu lebih penting daripada harta,” kata ayah lima anak ini. Untuk itulah, Arwin berupaya memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk ingin menyekolahkan mereka di sekolah paling top di dunia.Selain boling, Arwin hobi main squash sejak 1985. Olahraga ini bisa membuatnya berkeringat banyak tanpa mengenal cuaca, peralatannya tidak mahal, dan tidak menyita banyak waktu. Sebagai anggota Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin), ia tentunya gemar berburu. Ia juga pengoleksi berbagai senjata api terdaftar.
►e-ti/atur
Menjalankan Mission Impossible
Arwin Rasyid, Dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dinobatkan sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Warta Ekonomi. Misinya di Telkom adalah meningkatkan penetrasi telepon, terutama di pedesaan. Di bawah kendalinya, Telkom berhasil mendongkrak pendapatan.
Wartawa Ekonomi 28 Desember 2005: Sulit membayangkan seorang bankir kawakan memimpin sebuah perusahaan telekomunikasi kelas dunia. Namun, itulah yang terjadi pada perjalanan karier Arwin Rasyid. Mantan wakil ketua BPPN ini ditunjuk menjadi dirut PT Telkom Tbk. pertengahan tahun ini, menggantikan Kristiono.
Terpilihnya Arwin mementahkan prediksi berbagai kalangan. Pasalnya, Kristiono jelas lebih dijagokan memimpin Telkom lantaran mempunyai track record bagus di bisnis telekomunikasi. Bandingkan dengan Arwin yang selama ini identik sebagai bankir karena kariernya yang panjang di Bank Niaga, Bank Danamon, dan Bank BNI. Namun, justru namanyalah yang terpilih menjadi dirut lewat mekanisme RUPS.
Kini Arwin memimpin misi meningkatkan peran Telkom dalam penetrasi penggunaan telepon, terutama di pedesaan yang penetrasinya di Indonesia baru 50%. Padahal di Cina sudah 80%. Untuk merealisasikan misi ini, Telkom meluncurkan satelit Telkom 2, menggantikan satelit Palapa B4 yang habis masa tugasnya.
Satelit ini akan digunakan untuk mendukung layanan komersial seperti transmisi backbone: SLJJ, SLI, internet, jaringan komunikasi militer; jaringan akses: internet, distance learning, satellite news gathering, bisnis VSAT (perbankan, pertambangan); dan broadcast: TV broadcast, audio broadcast, dan telekonferensi. Misi ini juga membuat 43.000 desa berdering, sebagaimana tertuang dalam program Universal Service Obligation (USO).
Dari segi profit, Telkom diperkirakan dapat meraup pendapatan US$468 juta dari bisnis penyewaan Telkom 2. Pendapatan dari Telkom 2 dihitung dari 65% kapasitas transponder, masing-masing disewakan sebesar US$1 juta per tahun. Lalu, 24 transponder yang dimiliki Telkom dapat beroperasi selama 15 tahun dan bisa dioptimalkan menjadi dua kali lipat.
Meski baru lima bulan memimpin Telkom, kontribusi kepemimpinan Arwin sudah terasa. Supaya adil, lihat angkanya. Berdasarkan laporan kinerja perusahaan yang di-launch di Jakarta beberapa waktu lalu, pada triwulan ketiga Telkom mengalami kenaikan pendapatan sebesar 20%, dari Rp25,095 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp30,1 triliun. “Ini dibarengi peningkatan laba bersih dari Rp4,8 triliun pada triwulan ketiga 2004 menjadi Rp5,7 triliun atau naik 19% pada triwulan ketiga 2005,” papar Arwin.
Suami Dotty Suraida ini juga bisa mendongkrak pertumbuhan pelanggan selular Telkom. Saat ini total pelanggan Grup Telkom mencapai 36 juta. Peningkatan yang cukup berarti ada di Line in Service (LIS) Flexi yang tumbuh 244%, yakni dari satu juta pelanggan pada triwulan ketiga 2004 menjadi 3,7 pelanggan pada triwulan ketiga 2005. Untuk pelanggan selular, tumbuh 72% menjadi 24 juta. “Hingga kuartal ketiga 2005, Telkomsel masih menguasai pasar selular dengan market share 54%,” ucap Arwin. (harso kurniawan) ►e-ti
Nama :Arwin Rasyid
Lahir :Roma, Italia, 22 Januari 1957
Agama :Islam
Pendidikan:
- 1973 Sertifikasi Matrikulasi-The Gandhi Memorial School, Jakarta.
- 1980 Sarjana Ekonomi-Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jurusan Studi Pembangunan
- 1981 MA International Economics-University of Hawaii, USA
- 1982 MBA International Business-University of Hawaii, USA
- 1984 Chief Executive Program, University of California, Barkeley, AS
Karir:
- Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1977–sekarang)
- Staf peneliti Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1977-1980)
- Asisten Vice President, Bank of America, Jakarta (1980-1987)
- Asisten Vice President, Kepala Divisi Marketing PT Bank Niaga Tbk cabang Gajah Mada (1987-1989)
- Vice President, Kepala Divisi Marketing dan Kredit Grup PT Bank Niaga Tbk. (1989-1990)
- Managing Director PT Niaga Factoring Corporation (1990-1994)
- Senior Vice President Grup Korporat Perbankan PT Bank Biaga Tbk. (1990-1994)
- Komisaris PT Niaga BZW Securities (1991-Maret 1999)
- Komisaris PT Niaga Factoring Corporation (1994-Maret 1999)
- Direktur Niaga Finance Co. Ltd. Hong Kong (1994-Maret 1999)
- Direktur Korporat Perbankan PT Bank Niaga Tbk. (1994-1998)
- Wakil Direktur Utama PT Bank Niaga Tbk. (1998-Maret 1999)
- Wakil Komisaris Utama Bank Universal (Juni 1999-Desember 2000)
- Staf Ahli Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN (Mei 1999-Januari 2000)
- Wakil Ketua BPPN (Januari 1999-November 2000)
- Direktur Utama Bank Danamon Indonesia (Oktober 2000-2003)
- Wakil Dirut PT Bank Negara Indonesia Tbk, 2003-2005
- Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, 2005
Kegiatan Lain:
- Ketua Ikatan Alumni UI-Fakultas Ekonomi (ILUNI FE), 2003-sekarang
- Anggota dari Apec Business Advisory Council (ABAC), 2002-sekarang
- Anggota BPPW (Badan Pengembangan dan Pengelolaan Wirausaha) – UI, 2002-sekarang
- Wakil ketua bidang dana – Perbakin, 2002-sekarang
- Wakil ketua bidang dana – PBSI, 2002-sekarang
- Anggota KPEN (Komite Pemulihan Ekonomi Nasional), 2001-sekarang
- Ketua Bidang Pengkajian Perbankan dari Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional Swasta (Perbanas), 2000-sekarang
Penghargaan:
- President of India Trophy, 1973
- Beasiswa "Supersemar", 1978
- East West Center Award, USA, 1981- Beta Sigma Award, USA, 1983
Alamat Rumah:
Jl. Simprug Golf XIV/D-1 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
PT Telekomunikasi IndonesiaBandung
Bankir Pimpin Telkom
Jakarta 25/6/2005: Di luar dugaan mantan Dirut Bank Danamon dan Wakil Dirut BNI Arwin Rasyid dipercaya pemerintah menjadi Direktur Utama PT Telkom Tbk dalam RUPS, yang berlangsung di Kantor Divre II Telkom Jakarta, Jumat (24/6/2005). Alumni S1 FE-UI (1980) dan S2 (MBA) International Business-University of Hawaii, USA, itu menggantikan Kristiono yang semula dijagokan akan tetap menduduki jabatan itu.Terpilihnya Arwin, pria kelahiran Roma, Italia 22 Januari 1957, yang sebelumnya juga dicalonkan dalam bursa Dirut Indosat, di luar dugaan banyak kalangan yang menginginkan dirut Telkom dari orang dalam dan berpengalaman di industri telekomunikasi. Tidak banyak orang yang memprediksi Arwin, bankir yang dekat dengan Sofyan Djalil, Menteri Komunikasi dan Informasi itu setelah gagal menjadi Dirut Indosat akan dipercaya memimpin Telkom. RUPS juga menetapkan adanya jabatan Wakil Direktur Utama yang dipercayakan kepada mantan Direktur Bisnis dan Jasa Telekomunikasi Garuda Sugardo. RUPS menyetujui susunan Dewan Direksi yang diajukan Dewan Komisaris Telkom untuk menambah jajaran direksi dari lima menjadi tujuh. Sementara susunan Dewan Komisaris tidak berubah, tetap lima orang yang dipimpin Tanri Abeng sebagai Komisaris Utama.
Adapun susunan direksi baru PT Telkom Tbk hasil RUPS 24 Juni 2005 adalah: Direktur Utama Arwin Rasyid, Wakil Dirut Garuda Sugardo, Direktur Keuangan dan Investasi Rinaldi Firmansyah, Direktur Infrastruktur dan Jaringan Abdul Haris Matondang, Direktur Korporasi dan Wholesale Aris Yahya, dan Direktur SDM dan Pengempangan John Welly.Di hadapan RUPS, Arwin bersama seluruh anggota direksi yang baru terpilih menyatakan kesediaannya menduduki jabatan ketika ditanya Komisaris Utama PT Telkom Tanri Abeng. Arwin Rasyid mengatakan, dirinya tidak akan pura-pura menjadi orang yang mengetahui segala hal soal telekomunikasi. Namun, sebagai bankir, dia akan bekerja sama dengan seluruh direksi untuk memajukan Telkom sebagai ikon perusahaan Indonesia. Maka dia meminta diberi waktu untuk menjelaskan mengenai misi para direksi. Penjelasan tersebut akan disampaikan bersamaan dengan pengumuman kinerja kuartal II Telkom.Arwin mengatakan, Telkom menghadapi tantangan untuk meningkatkan penetrasi penggunaan telepon, terutama di pedesaan. Saat ini jaringan telepon hanya menjangkau 50 persen pedesaan di Indonesia, padahal di China mencapai 80 persen.Sementara itu, Menteri Negara BUMN Sugiharto mengatakan, Arwin Rasyid diharapkan dapat mendorong Telkom menjadi perusahaan yang memiliki kapitalisasi sebesar 33 miliar dollar AS, dari kapitalisasi saat ini yang hanya 11 miliar dollar AS. Meski tidak berpengalaman di bidang telekomunikasi, Arwin diharapkan mampu menstabilkan keuangan Telkom sebagai perusahaan terbesar yang terdaftar di pasar modal Indonesia.Bagi dividenRUPS juga memutuskan Telkom mengalokasikan dividen Rp3,06 triliun atau 50% dari laba tahun buku 2004. Sedangkan sebanyak 47% atau Rp2,7 triliun digunakan untuk pengembangan perusahaan.Selama 2004, Telkom memperoleh pendapatan operasi Rp33,95 triliun atau tumbuh 25% dibandingkan tahun sebelumnya, Rp27,12 triliun. Pada tahun 2005, Telkom Group mengalokasikan capital expenditure (capex) atau belanja modal Rp6,1 triliun untuk Telkom dan US$700 untuk anak perusahaan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).
PDAT
LAHIR di Roma, Italia, ia kemudian melewatkan masa kanak-kanak di Swiss selama enam tahun dan Singapura lima tahun. Ketika ia pulang ke Indonesia, apa yang terjadi? Arwin Rasyid tidak bisa berbahasa Indonesia. “Saya pikir bahasa Indonesia itu bahasa Padang,” tutur Direktur Utama Bank Danamon ini. Karena sehari-hari keluarganya berbahasa Inggris dan bahasa Padang. Ayahnya seorang diplomat asal Sumatera Barat; ibunya berdarah Sumatera Barat pula. Atas dispensasi dari Departemen P&K, Arwin masuk sekolah internasional, The Gandhi Memorial School Jakarta, yang tidak memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Tapi, setelah lulus sekolah internasional itu, ayah dan ibunya menginginkan Arwin kuliah di dalam negeri. Tapi kalau ayahnya menginginkannya masuk fakultas hukum, mau sang ibu agar bungsu dari empat bersaudara itu masuk fakultas kedokteran. Padahal, Arwin berpeluang kuliah di University of New Delhi di New Delhi, India, dengan beasiswa dari The Gandhi Memorial School. Apa yang terjadi, Arwin menentukan sendiri pilihannya. Ia masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sambil mengambil kursus intensif bahasa Indonesia. “Tahun pertama dan kedua kuliah, setiap pertanyaan, saya jawab dengan bahasa Inggris,” papar MBA dari Universitas Hawaii, Honolulu, AS, ini. “Untung dosen UI banyak yang lulusan Amerika, seperti Emil Salim, Sri-Edi Swasono, Miranda Goeltom,” tambahnya. Saat mahasiswa, selain pernah jadi asisten Sumitro Djojohadikusumo, ia sudah aktif di Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.Lulus kuliah, 1980, ia bekerja di Bank of America sambil menyebar permohonan beasiswa. Impiannya melanjutkan studi di luar negeri terwujud berkat beasiswa dari HISWA Center untuk kuliah di Universitas Hawaii, AS, selama dua tahun. Baru satu setengah tahun, ia sudah meraih gelar M.A. ekonomi; kemudian sekalian ia memanfaatkan sisa waktu dengan mengambil gelar MBA di universitas yang sama, 1982. Pulang ke Tanah Air, Arwin kembali ke Bank of America. Setelah tujuh tahun di bank tersebut, ia bekerja di Bank Niaga. Sepulang dari naik haji, 1999, ia hijrah ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai staf ahli, sampai akhirnya menjadi Wakil Ketua BPPN. Sejak Oktober 2000, Arwin dipercaya memimpin Bank Danamon.Dalam memimpin perusahaan, ia senantiasa meningkatkan kualitas karyawan, sebagai aset utama perusahaan. Caranya melalui training dan menerapkan budaya profesional, serta mengambil bankir-bankir yang profesional, supaya ada dinamika baru. Prinsip hidupnya: “Saya mau hidup tenang, tapi dengan taraf hidup sesuai dengan zaman sekarang.” Seperti yang diajarkan orangtuanya, Arwin mendidik anak-anaknya agar tidak manja. “Saya tidak pernah dimanja orangtua. Saya harus sekolah yang benar, bekerja yang benar dan keras. Orang tua hanya memberikan nilai-nilai hidup dan itu lebih penting daripada harta,” kata ayah lima anak ini. Untuk itulah, Arwin berupaya memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk ingin menyekolahkan mereka di sekolah paling top di dunia.Selain boling, Arwin hobi main squash sejak 1985. Olahraga ini bisa membuatnya berkeringat banyak tanpa mengenal cuaca, peralatannya tidak mahal, dan tidak menyita banyak waktu. Sebagai anggota Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin), ia tentunya gemar berburu. Ia juga pengoleksi berbagai senjata api terdaftar.
►e-ti/atur
Menjalankan Mission Impossible
Arwin Rasyid, Dirut PT Telekomunikasi Indonesia Tbk dinobatkan sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Warta Ekonomi. Misinya di Telkom adalah meningkatkan penetrasi telepon, terutama di pedesaan. Di bawah kendalinya, Telkom berhasil mendongkrak pendapatan.
Wartawa Ekonomi 28 Desember 2005: Sulit membayangkan seorang bankir kawakan memimpin sebuah perusahaan telekomunikasi kelas dunia. Namun, itulah yang terjadi pada perjalanan karier Arwin Rasyid. Mantan wakil ketua BPPN ini ditunjuk menjadi dirut PT Telkom Tbk. pertengahan tahun ini, menggantikan Kristiono.
Terpilihnya Arwin mementahkan prediksi berbagai kalangan. Pasalnya, Kristiono jelas lebih dijagokan memimpin Telkom lantaran mempunyai track record bagus di bisnis telekomunikasi. Bandingkan dengan Arwin yang selama ini identik sebagai bankir karena kariernya yang panjang di Bank Niaga, Bank Danamon, dan Bank BNI. Namun, justru namanyalah yang terpilih menjadi dirut lewat mekanisme RUPS.
Kini Arwin memimpin misi meningkatkan peran Telkom dalam penetrasi penggunaan telepon, terutama di pedesaan yang penetrasinya di Indonesia baru 50%. Padahal di Cina sudah 80%. Untuk merealisasikan misi ini, Telkom meluncurkan satelit Telkom 2, menggantikan satelit Palapa B4 yang habis masa tugasnya.
Satelit ini akan digunakan untuk mendukung layanan komersial seperti transmisi backbone: SLJJ, SLI, internet, jaringan komunikasi militer; jaringan akses: internet, distance learning, satellite news gathering, bisnis VSAT (perbankan, pertambangan); dan broadcast: TV broadcast, audio broadcast, dan telekonferensi. Misi ini juga membuat 43.000 desa berdering, sebagaimana tertuang dalam program Universal Service Obligation (USO).
Dari segi profit, Telkom diperkirakan dapat meraup pendapatan US$468 juta dari bisnis penyewaan Telkom 2. Pendapatan dari Telkom 2 dihitung dari 65% kapasitas transponder, masing-masing disewakan sebesar US$1 juta per tahun. Lalu, 24 transponder yang dimiliki Telkom dapat beroperasi selama 15 tahun dan bisa dioptimalkan menjadi dua kali lipat.
Meski baru lima bulan memimpin Telkom, kontribusi kepemimpinan Arwin sudah terasa. Supaya adil, lihat angkanya. Berdasarkan laporan kinerja perusahaan yang di-launch di Jakarta beberapa waktu lalu, pada triwulan ketiga Telkom mengalami kenaikan pendapatan sebesar 20%, dari Rp25,095 triliun pada periode yang sama tahun lalu menjadi Rp30,1 triliun. “Ini dibarengi peningkatan laba bersih dari Rp4,8 triliun pada triwulan ketiga 2004 menjadi Rp5,7 triliun atau naik 19% pada triwulan ketiga 2005,” papar Arwin.
Suami Dotty Suraida ini juga bisa mendongkrak pertumbuhan pelanggan selular Telkom. Saat ini total pelanggan Grup Telkom mencapai 36 juta. Peningkatan yang cukup berarti ada di Line in Service (LIS) Flexi yang tumbuh 244%, yakni dari satu juta pelanggan pada triwulan ketiga 2004 menjadi 3,7 pelanggan pada triwulan ketiga 2005. Untuk pelanggan selular, tumbuh 72% menjadi 24 juta. “Hingga kuartal ketiga 2005, Telkomsel masih menguasai pasar selular dengan market share 54%,” ucap Arwin. (harso kurniawan) ►e-ti
Nama :Arwin Rasyid
Lahir :Roma, Italia, 22 Januari 1957
Agama :Islam
Pendidikan:
- 1973 Sertifikasi Matrikulasi-The Gandhi Memorial School, Jakarta.
- 1980 Sarjana Ekonomi-Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia, Jurusan Studi Pembangunan
- 1981 MA International Economics-University of Hawaii, USA
- 1982 MBA International Business-University of Hawaii, USA
- 1984 Chief Executive Program, University of California, Barkeley, AS
Karir:
- Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1977–sekarang)
- Staf peneliti Lembaga Penelitian Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1977-1980)
- Asisten Vice President, Bank of America, Jakarta (1980-1987)
- Asisten Vice President, Kepala Divisi Marketing PT Bank Niaga Tbk cabang Gajah Mada (1987-1989)
- Vice President, Kepala Divisi Marketing dan Kredit Grup PT Bank Niaga Tbk. (1989-1990)
- Managing Director PT Niaga Factoring Corporation (1990-1994)
- Senior Vice President Grup Korporat Perbankan PT Bank Biaga Tbk. (1990-1994)
- Komisaris PT Niaga BZW Securities (1991-Maret 1999)
- Komisaris PT Niaga Factoring Corporation (1994-Maret 1999)
- Direktur Niaga Finance Co. Ltd. Hong Kong (1994-Maret 1999)
- Direktur Korporat Perbankan PT Bank Niaga Tbk. (1994-1998)
- Wakil Direktur Utama PT Bank Niaga Tbk. (1998-Maret 1999)
- Wakil Komisaris Utama Bank Universal (Juni 1999-Desember 2000)
- Staf Ahli Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN (Mei 1999-Januari 2000)
- Wakil Ketua BPPN (Januari 1999-November 2000)
- Direktur Utama Bank Danamon Indonesia (Oktober 2000-2003)
- Wakil Dirut PT Bank Negara Indonesia Tbk, 2003-2005
- Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia, 2005
Kegiatan Lain:
- Ketua Ikatan Alumni UI-Fakultas Ekonomi (ILUNI FE), 2003-sekarang
- Anggota dari Apec Business Advisory Council (ABAC), 2002-sekarang
- Anggota BPPW (Badan Pengembangan dan Pengelolaan Wirausaha) – UI, 2002-sekarang
- Wakil ketua bidang dana – Perbakin, 2002-sekarang
- Wakil ketua bidang dana – PBSI, 2002-sekarang
- Anggota KPEN (Komite Pemulihan Ekonomi Nasional), 2001-sekarang
- Ketua Bidang Pengkajian Perbankan dari Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional Swasta (Perbanas), 2000-sekarang
Penghargaan:
- President of India Trophy, 1973
- Beasiswa "Supersemar", 1978
- East West Center Award, USA, 1981- Beta Sigma Award, USA, 1983
Alamat Rumah:
Jl. Simprug Golf XIV/D-1 Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Alamat Kantor:
PT Telekomunikasi IndonesiaBandung
Senin, 14 Januari 2008
Sawir St Mudo

Mencari di mana keberadaan seniman tradisi Minang seperti Sawir Sutan Mudo (65) ternyata susah-susah gampang. Sederet informasi tentang keberadaan Sawir bagai menguap saat lokasi-lokasi yang ditunjukkan itu didatangi.
Hanya keberuntungan yang akhirnya mempertemukan kami. Setelah pencarian hingga tengah malam gagal ’menemukan’ jejak keberadaan Sawir, keesokan harinya—sesaat sebelum meninggalkan Bukittinggi menuju Padang Panjang untuk kembali ke Jakarta—seorang teman dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang datang memberi saran.
"Kita coba mampir dulu ke sebuah rumah makan di Pasar Bawah. Menurut kabar terakhir, belakangan ini dia sering tidur di sana," kata Hanefi, Ketua Jurusan Seni Karawitan pada STSI Padang Panjang.
Dugaan Hanefi benar. Setelah menuruni deretan anak tangga yang cukup banyak (ada sekitar 100 anak tangga) dari Pasar Atas Bukittinggi, Jufri—juga dari STSI Padang Panjang—yang tiba lebih dulu di Pasar Bawah dengan mengendarai mobil, mengabarkan lewat telepon seluler bahwa Sawir memang ada di rumah makan itu.
"Mak Sawir tadi malam tidur di atas meja makan ini," kata sang pemilik rumah makan ketika kami tiba di sana.
Sejak beberapa bulan terakhir, Mak Sawir—begitu ia biasa disapa—memang jarang pulang ke rumahnya di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi. Malam-malam sehabis bagurau (begitulah masyarakat Minang menyebut jenis pertunjukan Mak Sawir dengan lantunan dendang yang diiringi tiupan saluang) memenuhi panggilan orang yang menggelar hajatan, menjelang subuh ia mengetuk pintu rumah makan dan tidur di sana.
Meja makan yang pada siang hingga menjelang tengah malam biasanya dipakai untuk tempat hidangan dimanfaatkan Sawir sebagai tempat merebahkan diri melepas lelah. Pagi sebelum pelanggan pertama datang, biasanya Sawir sudah menghilang.
Beruntung, pagi itu ia masih ada. Ia sudah berpakaian, bersiap untuk pergi entah ke mana, meski terlihat wajahnya yang lelah tak bisa menyembunyikan kantuk."Saya pesan kopi pahit saja," kata Sawir saat ditawari sarapan. "Ada masalah rumah tangga," ujarnya pendek ketika disinggung mengapa ia tak pulang kepada istrinya, Syakni Deliyarti (52), di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Berguru pada kehidupan
Sawir Sutan Mudo atau biasa dipanggil Mak Sawir dilahirkan tahun 1942 di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tak lama setelah kelahirannya, bungsu dari empat bersaudara ini ditinggal pergi ibunya, Siti Saleha. Pada usia enam tahun, ayahnya, M Isa, juga berpulang.
Hidup tanpa kedua orangtua sejak kecil membuat Sawir lebih cepat mandiri. Bahkan pada usia sembilan tahun ia sudah ikut saudaranya merantau ke Palembang dan Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.
Di samping berjualan buah-buahan dan pakaian di kaki lima, selama di perantauan itu Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang, yang sudah ia pelajari di kampung. Berkat kemampuannya berdendang dengan iringan saluang, juga lantaran kebisaan dia bermain randai, Sawir kerap diundang mengisi acara pesta perkawinan atau pertemuan orang Minang di perantauan.
Alhasil, bagi Sawir—yang cuma mengenyam pendidikan formal hingga kelas IV sekolah rakyat (SR)—masa-masa di perantauan itu bukan saja bagian dari ’aktivitas pendidikan’ informal untuk menempa kematangan diri dalam mengarungi hidup. Kehidupan di rantau juga ia jadikan medium tempat mengasah kemampuan memperdalam seni tradisi leluhur.
Tahun 1968 ia pulang kampung. "Balek ke nagari, kawin (Sawir dua kali menikah, tahun 1968 dan 1972) sekaligus mengembangkan seni budaya tradisi di kampung halaman," ujarnya.
Kegiatan berdagang di rantau tak ia tinggalkan. Bedanya, kalau selama di rantau Sawir mangkal di satu tempat, sejak pulang ke kampung halaman di tepian Danau Maninjau ia harus bergerak dari satu pekan (pasar di kampung-kampung yang dilangsungkan sekali dalam seminggu) ke pekan lain.
Begitu pun setelah ia memutuskan pindah ke Bukittinggi pada 1970-an, berdagang di kaki lima lalu sesekali pergi ke pekan-pekan tetap merupakan pekerjaan pokoknya. Pakaian-pakaian bekas jadi dagangan utamanya.
Di luar kegiatan rutin tersebut, Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang saluang secara otodidak. Pengalaman adalah sekolah terbaiknya, dan alam kehidupanlah tempat ia berguru. "Alam takambang jadi guru," kata para cerdik cendekia Minang. Begitu pula jalan hidup Mak Sawir dalam berkesenian.
"Berdendang itu harus mengetahui peristiwa-peristiwa pada kehidupan sehari-hari. Itu semua bahan untuk berdendang, untuk menciptakan pantun yang segar tapi berisi. Berpantun itu kan penuh dengan ibarat, penuh nasihat. Karena itu pula berdendang saluang itu lebih sulit daripada memainkan musiknya," tutur Sawir.
Sejak bermukim di Bukittinggi, nama Sawir Sutan Mudo mulai dikenal luas. Bukan saja permintaan tampil bagurau datang dari banyak orang yang menyelenggarakan hajatan, perusahaan rekaman pun mulai melirik lantunan suara Mak Sawir.
Sejak pertama kali rekaman dalam bentuk kaset dan piringan hitam pada 1972, menurut Sawir, sudah lebih dari 50 album berisi rekaman suaranya beredar di pasar. Bahkan ia pun diminta rekaman dalam bentuk VCD karaoke.
Nama Sawir Sutan Mudo kian menjulang. Tak hanya dikenal luas di tanah Minang, tetapi juga di kalangan para perantau Minang di berbagai kota di Tanah Air. Sesekali ia diundang hadir di kota tertentu untuk memuaskan rindu para perantau pada kampung halaman. Setiap Senin malam Sawir mengisi acara khusus dendang saluang di RRI Bukittinggi. Tahun 1999 bersama kelompok musik Talago Buni pimpinan Eddy Utama, Mak Sawir disertakan berpentas di tujuh kota di Jerman pada Festival Musim Panas.
Kayakah dia? Tidak! Seperti nasib kebanyakan seniman tradisi di Tanah Air, hidup Sawir jauh dari berkecukupan. Dari hasil rekaman suara, Sawir hanya mampu membangun rumah sederhana untuk anak-istri di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Kalaupun ada lebih, pendapatan itu ia gunakan menambal modal usaha yang kerap "bocor" lantaran uang hasil dagang di kaki lima sering terpakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Malah di saat rumah tangganya bermasalah, Sawir harus menumpang tidur dari satu tempat ke tempat lain.
Bagaimana mungkin bisa kaya kalau honor yang ia dapat hanya Rp 1 juta sekali rekaman kaset dan Rp 3 juta untuk VCD karaoke. Dengan sistem ’kontrak putus’, tak ada royalti yang ia dapat, sekalipun bila kasetnya laku keras. Adapun bila diundang bagurau paling-paling ia terima honor Rp 300.000 sekali pentas.
Akan tetapi, kenyataan ini tidaklah terlalu merisaukan Mak Sawir. Ia justru lebih resah melihat kenyataan akhir-akhir ini banyak lagu dendang saluang yang dirusak oleh lirik-lirik berbau pornografi.
Pantun-pantun dendang yang tertib, penuh kiasan dan nasihat tentang kehidupan, kini mulai digantikan lirik yang semata-mata lebih mengedepankan unsur hiburan. Kearifan tentang filosofi hidup di balik seni tradisi itu pun kian tergerus zaman.... (mhd/ken)
Biodata
Nama: Sawir Sutan Mudo
Lahir: Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tahun 1942
Pendidikan: Sampai kelas IV SR
Istri: Syakni Deliyarti (52)
Anak:
- Sumiati
- Syafrial
- Syarfil
- Kurniawati
- Rina Rahmadani dan Rini Ramadani (kembar)
- Fatimah Zahara
- Fajori Rachman
Kompas, Sabtu 5 Januari 2008
SAWIR SUTAN MUDO
Seni Tradisi Dendang Minang
Nama : Sawir Sutan Mudo
Tempat dan Tanggal Lahir: Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada tahun 1942
Pekerjaan: Berdagang dan Berdendang
Pendidikan: Sekolah RakyatAnak: 8 orang
Karya dan Pergalaman Kesenian
Pada Juli 1999 tampil di tujuh kota di Jerman bersama Kelompok Musik Talago Buni
Mengisi Acara Bergurau di RRI Bukittinggi setiap hari Senin.
Pada 1968-1970 lagu Talago Biru dan Suntiang Patah Batikam direkam di piringan hitam dan diedarkan ke tengah masyarakat
Sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 2000 sudah lebih 100 rekamannya di pita kaset yang beredar luas dan dikoleksi masyarakat Minang di kampung dan perantauan, juga dikoleksi sejumlah peneliti. Antara lain, Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, Talempong Anam Koto, Ratok Kaki Limo
Pernah empat kali juara pertama festival saluang dengan dendang, dan juga pernah jadi dosen tamu di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang.
Prihatin dengan Isi Dendang
Sebagai seorang seniman tradisi di ranah ini, ia menyimpan keprihatinan mendalam akan kondisi kekinian kebudayaan, adat, dan tradisi Minang. Ia menilai, Minang dalam pengertian luas mengalami kemerosotan luar biasa. Kekhawatirannya itu terungkap lewat sampiran penuh peringatan; “Jaan sampai rusak kapa dek nangkhododoh, binaso kayu dek tukang, rusak adat dek pangulu, jalan dialiah dek urang lalu. (Jangan sampai rusak kapal disebabkan oleh nakhoda, hancur kayu karena tukang, rusak adat karena penghulu, jalan digeser orang lewat).
Sebagai seorang pendendang, dia pun resah dengan lagu-lagu dendang yang ada saat ini. Dendang saat ini telah dirusak oleh lirik-lirik yang berbau pornografi yang semata-mata hanya mengedepankan hiburan semata, namun terperangkap dalam selera rendahan. Lagu-lagu dengan judul Kutang Barendo, Rok Baremot dan sejenisnya adalah ekspresi dari makin merosotnya daya cipta seniman Minang saat ini.
Itulah keresahan dari Sawir Sutan Mudo—seorang pendendang, seniman tradisi sejati yang hingga saat ini tetap mencipta dan melantunkan dendang. Sawir—bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya. Kabupaten Agam pada tahun 1942. Kedua orangtua Sawir adalah petani. Ibunya bernama Siti Saleah dan ayahnya Muhammad Isa. Sawir telah ditinggal kedua orangtuanya sejak ia masih kanak-kanak. Ibunya meninggal dunia tak lama setelah ia lahir. Sedangkan ayahnya berpulang ke rahmatullah saat Sawir berusia enam tahun.
Karena ditinggal kedua orangtua sejak masih kanak-kanak, Sawir harus belajar hidup mandiri. Ia tak sempat meniti jenjang pendidikan formal yang tinggi. Ia hanya bersekolah sampai kelas empat Sekolah Rakyat. Putus dari sekolah, Sawir pergi merantau mengikuti saudara-saudaranya. Padang, Palembang, Lubuk Linggau adalah kota-kota tempat Sawir merantau. Sejak umur 13 tahun Sawir sudah berdagang berbagai macam barang dagangan. Pada tahun 1968 barulah Sawir kembali ke kampung halaman. Pada tahun itu pula ia menikah untuk pertama kalinya. Dari pernikahannya yang pertama ini Sawir memunyai seorang putri bernama Sumiati. Pada tahun 1972 Sawir menikah lagi. Dengan istrinya yang kedua Sawir memunyai tujuh orang anak. Sekarang bersama keluarganya ini, Sawir menetap di Bukittinggi.
Bakat Sawir sebagai pendendang sudah terasah sejak masih kanak-kanak. Ia bergabung dengan grup randai yang ada di kampungnya sebagai penyanyi randai. Sejak itu pula Sawir belajar pada seorang seniman alam bernama Angku Katik; ”Baguru mangko pandai (berguru makanya pandai),” ungkap Sawir tentang proses belajar yang ia lalui.
Berguru pada Alam
Kemampuannya sebagai seniman makin terasah setelah di perantauan. Pada masa itu para perantau Minang di mana pun berada selalu membangun kelompok-kelompok kesenian sebagai wadah bagi anak-anak rantau untuk memupuk bakat seni yang dimiliki. Namun sekarang, kebiasaan ini sudah hampir hilang, orang Minang pun terdesak dan dipaksa menikmati kesenian populer yang membanjir saat ini. Seni tradisi Minang makin lama makin terpinggir, bahkan di pelosok-pelosok nagari pun, kesenian tradisi Minang hampir musnah sama sekali.
Dalam tradisi Minang ada seni yang disebut bagurau. Bagurau dilakukan dengan saluang jo dendang tidak hanya pada acara pernikahan, tetapi juga pada acara sunatan, “Alek Nagari” (acara menghimpun dana untuk pembangunan di kampung), Lebaran, batagak panghulu (pengukuhan gelar adat/kaum) serta pada acara bagurau lamak (dengan kalangan pendengar terbatas, 10-15 orang). Sawir kerap diundang dalam acara-acara demikian
Sejak di perantauan Sawir sudah dikenal sebagai pendendang. Dan ketika kembali ke kampung halaman, kemampunnya berdendang tetap diteruskan. Tak hanya menyanyikan lagu-lagu dendang, Sawir juga mencipta puluhan lagu dendang yang sampai sekarang masih sering dibawakan banyak pendendang. Suntiang Patah Batikam (tahun 1970), Talago Biru (1968), Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, dan Talempong Anam Koto adalah di antara lagu-lagu dendang ciptaan Sawir. Malereang Tabiang salah satu versi lagunya juga merupakan ciptaannya.
Sekarang, Sawir tetap berdendang bila diundang. Baik ke acara baralek, batagak pangulu, dan tampil di acara-acara yang diundang orang rantau. Sawir juga sering diundang tampil ke berbagai pertunjukan kesenian, baik di Sumatra Barat, ke berbagai daerah di Sumatra, maupun ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Tak hanya itu, bersama grup Talago Buni, pada bulan Juli 1999 Sawir pernah tampil di tujuh kota di Jerman. Di samping diundang untuk bernyanyi dan berdendang, Sawir juga diminta sebagai pembicara pada beberapa seminar tentang kesenian dan budaya tradisi.
Waktu tampil di beberapa pertunjukan dan festival internasional itulah, Sawir merasa bahwa karya seni bisa menjadi alat untuk menjalin komunikasi antarbangsa meski tak mengerti bahasanya. Melalui karya seni kita bisa mengenal karakter dan nilai-nilai yang dimiliki oleh beragam bangsa. Dan ternyata, kekayaan seni tradisi yang dimiliki Minangkabau bisa mendapat tempat penting dalam khazanah seni dunia.
Untuk itulah, bagi seorang Sawir, kekayaan seni tradisi Minang harus dipelihara, digali terus menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Seni tradisi Minang memiliki keluhuran nilai-nilai yang sangat kuat berpijak pada akar kebudayaan Minang yang senantiasa mengedepankan kebaikan, budi pekerti dan kandungan estetika yang amat tinggi. Seni tradisi merupakan media untuk pendidikan adat istiadat, budaya dan agama. Lewat seni tradisi, ketinggian mutu nilai-nilat keminangkabuan tetap terpelihara dan terwariskan.
Sawir tak menolak mentah-mentah kesenian Minang kontemporer yang mencoba berkompromi dengan arus budaya populer. Namun Sawir berharap, jangan terlalu jauh menyimpang. Etika dan prinsip-prinsip adat dan budaya Minang mestinya tetap dijaga. Kalau tidak orang Minang sendiri yang menjaganya, kesenian tradisi Minang akan musnah ditelan zaman yang makin lama makin dikendalikan uang.
Kesenian Minang dalam hal ini dendang, menurut Sawir punya bahasa tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dendang tak hanya berisikan kepiluan dan problem batin yang dialami seseorang, masyarakat maupun etnik Minang, tapi dendang juga punya idiom dan bahasa tersendiri yang mengisahkan romantika asmara dan gejolak perasaan yang dialami anak muda. Bahasa dendang amat indah, halus dan penuh dengan irama. Jauh dari kata-kata vulgar, kasar dan nuansa pornografi yang menunjukkan kerendahan. Dendang juga punya ruang untuk mengekspresikan kegembiraan yang biasa disebut bagurau. Dalam bagurau, ekspresi keriangan, kelucuan dan kejenakaan disajikan, namun tetap dengan bahasa yang santun, indah dan berpijak pada estetika yang kuat.
Bagi Sawir, dendang tak ditentukan oleh kemerduan suara sang pendendang, tapi lebih ditentukan oleh pemahaman yang kuat seorang pendendang tentang adat, budaya, agama dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat yang kemudian disampaikan melalui lirik dan irama dendang dengan penuh perasaan dan imajinasi yang amat tinggi. Dendang juga merupakan tangisan seorang pendendang. Dalam konteks ini, seorang pendendang adalah seorang cerdik cendikia atau intelektual yang mencoba mengingatkan masyarakat dan lingkungannya.
Untuk itulah, bagi Sawir seni tradisi harus tetap digali, dikembangkan, dipelahara dan diwariskan pada generasi berikutnya. Adalah omong kosong, slogan baliak ka nagari, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah terus digaungkan, tapi budaya dan seni tradisi diabaikan. Lembaga dan penanggung jawab kesenian harus membantu, mendorong dan memfasilitasi perkembangan kesenian tradisi. Dengan demikian, badan-badan pemerintah yang bertanggung jawab dalam bidang kesenian dan kebudayaan mesti diisi orang-orang yang memunyai kompetensi yang memadai di bidang ini. Hampir tak bisa diharapkapkan, seni dan budaya tradisi akan berjaya jika tetap dipimpin orang-orang yang salah tempat dan tak memiliki tanggung jawab.
Itulah seorang Sawir Sutan Mudo, seorang maestro dendang yang sampai sekarang tetap berdendang. Di samping berdendang, kesehariannya ia jalani dengan berdagang pakaian seken dari pekan ke pekan di sekitar danau Maninjau. Di setiap Senin malam ia juga mengisi acara dendang di RRI Bukittinggi. Namun berdagang kaki lima pada masa sekarang katanya tak lagi terlalu menguntungkan. Ekonomi masyarakat semakin sulit. Makanya, lewat lagu ciptaannya yang baru, Ratok Kaki Limo, keresahannya itu ia sampaikan.
Bagi Sawir, seni tradisi harus tetap dijaga dan diwarisi. Seni tradisi adalah penopang adat. Jika seni tradisi tetap terpelihara, akan terjaga pula adat dan budaya. Jika seni tradisi rusak, rusak pula adat. Jika adat rusak, hilang pusako dan hancurlah budaya.
Dendang dan Posisi Pedendang
Nada dasar yang dominan dalam saluang dengan dendang adalah ratok, nada-nada yang meratap. Bila pendendang bercerita soal nasib manusia, maka nasib manusia itu disimbolkan pada sesuatu dengan cerdas lewat pantun-pantun. Umumnya pendendang mewakili masyarakat marjinal.
Jadi, dalam kesenian saluang dengan dendang, yang sangat berperan sekali adalah pendendang. Dari hitungan jari sebelah tangan pendendang lelaki yang kini masih eksis, hanya ada seorang pendendang yang punya yang kuat dan terkenal di Sumatra Barat dan luar Sumatra Barat, bahkan di mancanegara, yakni Sawir Sutan Mudo.
Sawir Sutan Mudo mengaku tidak dengan serta merta menjadi terkenal. Penuh lika-liku dan perjuangan. Bermula dari anak randai (pemain teater tradisional Minangkabau) di Kotokaciak, Kabupaten Agam, pada usia 13 tahun. Saat itu, tugas yang diembannya adalah sebagai pendendang.
Tahun 1951, karena tuntutan hidup, ia merantau ke Palembang, Sumatra Selatan. Di rantau, di samping menggalas buah-buahan di kaki lima ia tetap mengembangkan kesenian tradisi. “Saya menyintai kesenian tradisi randai dan saluang jo dendang, karena pantun-pantun atau syair-syair dalam kesenian itu sangat menarik dan mengandung unsur pendidikan. Selain itu saya tertantang untuk membuat pantun-pantun yang bisa membuat penikmat kesenian tradisi itu puas dan terkesan,” kata Sawir.
Sebagai pendendang, Sawir belajar dari pengalaman, belajar dari alam: alam takambang jadi guru. Seorang pendendang, menurut dia, harus kaya bahan, kalau tidak tak akan diterima masyarakat. Dari pantun-pantun itu, ada yang berisi nasihat, perasaan hidup, dan asmara muda-mudi. Saking tersentuhnya perasaan para penikmat seni tradisi itu, sering orang menangis spontan karenanya. Itu salah satu kelebihan Sawir. Ia secara spontan mampu mengembangkan improvisasi dalam pantun. Pada sampiran dari pantun, ia selalu bisa mengolah dari lingkungan tempat ia bermain (orang, tempat),” kata Yusrizal KW, pengamat seni dan Ketua Yayasan Citra Budaya Indonesia, menilai.
Makanya jangan heran, saking cerdasnya pantun-pantun yang dibuat Sawir ini, baris-baris pantunnya sering diambil untuk inspirasi dan judul-judul lagu-lagu pop Minang dewasa ini. Bahkan ratusan pantun yang ia ciptakan kini sudah menjadi dendang-dendang tradisi, seperti antara lain “Suntiang Patah Batikam”, “Banda Guntuang”, “Hujan Baribuik”, “Danau Mamukek”, dan “Talempong Anam Koto”. (Abel Tasman, dan Tim DKSB)
Hanya keberuntungan yang akhirnya mempertemukan kami. Setelah pencarian hingga tengah malam gagal ’menemukan’ jejak keberadaan Sawir, keesokan harinya—sesaat sebelum meninggalkan Bukittinggi menuju Padang Panjang untuk kembali ke Jakarta—seorang teman dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padang Panjang datang memberi saran.
"Kita coba mampir dulu ke sebuah rumah makan di Pasar Bawah. Menurut kabar terakhir, belakangan ini dia sering tidur di sana," kata Hanefi, Ketua Jurusan Seni Karawitan pada STSI Padang Panjang.
Dugaan Hanefi benar. Setelah menuruni deretan anak tangga yang cukup banyak (ada sekitar 100 anak tangga) dari Pasar Atas Bukittinggi, Jufri—juga dari STSI Padang Panjang—yang tiba lebih dulu di Pasar Bawah dengan mengendarai mobil, mengabarkan lewat telepon seluler bahwa Sawir memang ada di rumah makan itu.
"Mak Sawir tadi malam tidur di atas meja makan ini," kata sang pemilik rumah makan ketika kami tiba di sana.
Sejak beberapa bulan terakhir, Mak Sawir—begitu ia biasa disapa—memang jarang pulang ke rumahnya di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi. Malam-malam sehabis bagurau (begitulah masyarakat Minang menyebut jenis pertunjukan Mak Sawir dengan lantunan dendang yang diiringi tiupan saluang) memenuhi panggilan orang yang menggelar hajatan, menjelang subuh ia mengetuk pintu rumah makan dan tidur di sana.
Meja makan yang pada siang hingga menjelang tengah malam biasanya dipakai untuk tempat hidangan dimanfaatkan Sawir sebagai tempat merebahkan diri melepas lelah. Pagi sebelum pelanggan pertama datang, biasanya Sawir sudah menghilang.
Beruntung, pagi itu ia masih ada. Ia sudah berpakaian, bersiap untuk pergi entah ke mana, meski terlihat wajahnya yang lelah tak bisa menyembunyikan kantuk."Saya pesan kopi pahit saja," kata Sawir saat ditawari sarapan. "Ada masalah rumah tangga," ujarnya pendek ketika disinggung mengapa ia tak pulang kepada istrinya, Syakni Deliyarti (52), di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Berguru pada kehidupan
Sawir Sutan Mudo atau biasa dipanggil Mak Sawir dilahirkan tahun 1942 di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tak lama setelah kelahirannya, bungsu dari empat bersaudara ini ditinggal pergi ibunya, Siti Saleha. Pada usia enam tahun, ayahnya, M Isa, juga berpulang.
Hidup tanpa kedua orangtua sejak kecil membuat Sawir lebih cepat mandiri. Bahkan pada usia sembilan tahun ia sudah ikut saudaranya merantau ke Palembang dan Lubuk Linggau di Sumatera Selatan.
Di samping berjualan buah-buahan dan pakaian di kaki lima, selama di perantauan itu Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang, yang sudah ia pelajari di kampung. Berkat kemampuannya berdendang dengan iringan saluang, juga lantaran kebisaan dia bermain randai, Sawir kerap diundang mengisi acara pesta perkawinan atau pertemuan orang Minang di perantauan.
Alhasil, bagi Sawir—yang cuma mengenyam pendidikan formal hingga kelas IV sekolah rakyat (SR)—masa-masa di perantauan itu bukan saja bagian dari ’aktivitas pendidikan’ informal untuk menempa kematangan diri dalam mengarungi hidup. Kehidupan di rantau juga ia jadikan medium tempat mengasah kemampuan memperdalam seni tradisi leluhur.
Tahun 1968 ia pulang kampung. "Balek ke nagari, kawin (Sawir dua kali menikah, tahun 1968 dan 1972) sekaligus mengembangkan seni budaya tradisi di kampung halaman," ujarnya.
Kegiatan berdagang di rantau tak ia tinggalkan. Bedanya, kalau selama di rantau Sawir mangkal di satu tempat, sejak pulang ke kampung halaman di tepian Danau Maninjau ia harus bergerak dari satu pekan (pasar di kampung-kampung yang dilangsungkan sekali dalam seminggu) ke pekan lain.
Begitu pun setelah ia memutuskan pindah ke Bukittinggi pada 1970-an, berdagang di kaki lima lalu sesekali pergi ke pekan-pekan tetap merupakan pekerjaan pokoknya. Pakaian-pakaian bekas jadi dagangan utamanya.
Di luar kegiatan rutin tersebut, Sawir terus memperdalam kemampuan berdendang saluang secara otodidak. Pengalaman adalah sekolah terbaiknya, dan alam kehidupanlah tempat ia berguru. "Alam takambang jadi guru," kata para cerdik cendekia Minang. Begitu pula jalan hidup Mak Sawir dalam berkesenian.
"Berdendang itu harus mengetahui peristiwa-peristiwa pada kehidupan sehari-hari. Itu semua bahan untuk berdendang, untuk menciptakan pantun yang segar tapi berisi. Berpantun itu kan penuh dengan ibarat, penuh nasihat. Karena itu pula berdendang saluang itu lebih sulit daripada memainkan musiknya," tutur Sawir.
Sejak bermukim di Bukittinggi, nama Sawir Sutan Mudo mulai dikenal luas. Bukan saja permintaan tampil bagurau datang dari banyak orang yang menyelenggarakan hajatan, perusahaan rekaman pun mulai melirik lantunan suara Mak Sawir.
Sejak pertama kali rekaman dalam bentuk kaset dan piringan hitam pada 1972, menurut Sawir, sudah lebih dari 50 album berisi rekaman suaranya beredar di pasar. Bahkan ia pun diminta rekaman dalam bentuk VCD karaoke.
Nama Sawir Sutan Mudo kian menjulang. Tak hanya dikenal luas di tanah Minang, tetapi juga di kalangan para perantau Minang di berbagai kota di Tanah Air. Sesekali ia diundang hadir di kota tertentu untuk memuaskan rindu para perantau pada kampung halaman. Setiap Senin malam Sawir mengisi acara khusus dendang saluang di RRI Bukittinggi. Tahun 1999 bersama kelompok musik Talago Buni pimpinan Eddy Utama, Mak Sawir disertakan berpentas di tujuh kota di Jerman pada Festival Musim Panas.
Kayakah dia? Tidak! Seperti nasib kebanyakan seniman tradisi di Tanah Air, hidup Sawir jauh dari berkecukupan. Dari hasil rekaman suara, Sawir hanya mampu membangun rumah sederhana untuk anak-istri di Kampung Tengah Sawah, Bukittinggi.
Kalaupun ada lebih, pendapatan itu ia gunakan menambal modal usaha yang kerap "bocor" lantaran uang hasil dagang di kaki lima sering terpakai untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Malah di saat rumah tangganya bermasalah, Sawir harus menumpang tidur dari satu tempat ke tempat lain.
Bagaimana mungkin bisa kaya kalau honor yang ia dapat hanya Rp 1 juta sekali rekaman kaset dan Rp 3 juta untuk VCD karaoke. Dengan sistem ’kontrak putus’, tak ada royalti yang ia dapat, sekalipun bila kasetnya laku keras. Adapun bila diundang bagurau paling-paling ia terima honor Rp 300.000 sekali pentas.
Akan tetapi, kenyataan ini tidaklah terlalu merisaukan Mak Sawir. Ia justru lebih resah melihat kenyataan akhir-akhir ini banyak lagu dendang saluang yang dirusak oleh lirik-lirik berbau pornografi.
Pantun-pantun dendang yang tertib, penuh kiasan dan nasihat tentang kehidupan, kini mulai digantikan lirik yang semata-mata lebih mengedepankan unsur hiburan. Kearifan tentang filosofi hidup di balik seni tradisi itu pun kian tergerus zaman.... (mhd/ken)
Biodata
Nama: Sawir Sutan Mudo
Lahir: Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tahun 1942
Pendidikan: Sampai kelas IV SR
Istri: Syakni Deliyarti (52)
Anak:
- Sumiati
- Syafrial
- Syarfil
- Kurniawati
- Rina Rahmadani dan Rini Ramadani (kembar)
- Fatimah Zahara
- Fajori Rachman
Kompas, Sabtu 5 Januari 2008
SAWIR SUTAN MUDO
Seni Tradisi Dendang Minang
Nama : Sawir Sutan Mudo
Tempat dan Tanggal Lahir: Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat pada tahun 1942
Pekerjaan: Berdagang dan Berdendang
Pendidikan: Sekolah RakyatAnak: 8 orang
Karya dan Pergalaman Kesenian
Pada Juli 1999 tampil di tujuh kota di Jerman bersama Kelompok Musik Talago Buni
Mengisi Acara Bergurau di RRI Bukittinggi setiap hari Senin.
Pada 1968-1970 lagu Talago Biru dan Suntiang Patah Batikam direkam di piringan hitam dan diedarkan ke tengah masyarakat
Sejak tahun 1972 sampai dengan tahun 2000 sudah lebih 100 rekamannya di pita kaset yang beredar luas dan dikoleksi masyarakat Minang di kampung dan perantauan, juga dikoleksi sejumlah peneliti. Antara lain, Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, Talempong Anam Koto, Ratok Kaki Limo
Pernah empat kali juara pertama festival saluang dengan dendang, dan juga pernah jadi dosen tamu di Akademi Seni Karawitan Indonesia (sekarang Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Padangpanjang.
Prihatin dengan Isi Dendang
Sebagai seorang seniman tradisi di ranah ini, ia menyimpan keprihatinan mendalam akan kondisi kekinian kebudayaan, adat, dan tradisi Minang. Ia menilai, Minang dalam pengertian luas mengalami kemerosotan luar biasa. Kekhawatirannya itu terungkap lewat sampiran penuh peringatan; “Jaan sampai rusak kapa dek nangkhododoh, binaso kayu dek tukang, rusak adat dek pangulu, jalan dialiah dek urang lalu. (Jangan sampai rusak kapal disebabkan oleh nakhoda, hancur kayu karena tukang, rusak adat karena penghulu, jalan digeser orang lewat).
Sebagai seorang pendendang, dia pun resah dengan lagu-lagu dendang yang ada saat ini. Dendang saat ini telah dirusak oleh lirik-lirik yang berbau pornografi yang semata-mata hanya mengedepankan hiburan semata, namun terperangkap dalam selera rendahan. Lagu-lagu dengan judul Kutang Barendo, Rok Baremot dan sejenisnya adalah ekspresi dari makin merosotnya daya cipta seniman Minang saat ini.
Itulah keresahan dari Sawir Sutan Mudo—seorang pendendang, seniman tradisi sejati yang hingga saat ini tetap mencipta dan melantunkan dendang. Sawir—bungsu dari empat bersaudara ini lahir di Nagari Koto Kaciak, Tanjung Raya. Kabupaten Agam pada tahun 1942. Kedua orangtua Sawir adalah petani. Ibunya bernama Siti Saleah dan ayahnya Muhammad Isa. Sawir telah ditinggal kedua orangtuanya sejak ia masih kanak-kanak. Ibunya meninggal dunia tak lama setelah ia lahir. Sedangkan ayahnya berpulang ke rahmatullah saat Sawir berusia enam tahun.
Karena ditinggal kedua orangtua sejak masih kanak-kanak, Sawir harus belajar hidup mandiri. Ia tak sempat meniti jenjang pendidikan formal yang tinggi. Ia hanya bersekolah sampai kelas empat Sekolah Rakyat. Putus dari sekolah, Sawir pergi merantau mengikuti saudara-saudaranya. Padang, Palembang, Lubuk Linggau adalah kota-kota tempat Sawir merantau. Sejak umur 13 tahun Sawir sudah berdagang berbagai macam barang dagangan. Pada tahun 1968 barulah Sawir kembali ke kampung halaman. Pada tahun itu pula ia menikah untuk pertama kalinya. Dari pernikahannya yang pertama ini Sawir memunyai seorang putri bernama Sumiati. Pada tahun 1972 Sawir menikah lagi. Dengan istrinya yang kedua Sawir memunyai tujuh orang anak. Sekarang bersama keluarganya ini, Sawir menetap di Bukittinggi.
Bakat Sawir sebagai pendendang sudah terasah sejak masih kanak-kanak. Ia bergabung dengan grup randai yang ada di kampungnya sebagai penyanyi randai. Sejak itu pula Sawir belajar pada seorang seniman alam bernama Angku Katik; ”Baguru mangko pandai (berguru makanya pandai),” ungkap Sawir tentang proses belajar yang ia lalui.
Berguru pada Alam
Kemampuannya sebagai seniman makin terasah setelah di perantauan. Pada masa itu para perantau Minang di mana pun berada selalu membangun kelompok-kelompok kesenian sebagai wadah bagi anak-anak rantau untuk memupuk bakat seni yang dimiliki. Namun sekarang, kebiasaan ini sudah hampir hilang, orang Minang pun terdesak dan dipaksa menikmati kesenian populer yang membanjir saat ini. Seni tradisi Minang makin lama makin terpinggir, bahkan di pelosok-pelosok nagari pun, kesenian tradisi Minang hampir musnah sama sekali.
Dalam tradisi Minang ada seni yang disebut bagurau. Bagurau dilakukan dengan saluang jo dendang tidak hanya pada acara pernikahan, tetapi juga pada acara sunatan, “Alek Nagari” (acara menghimpun dana untuk pembangunan di kampung), Lebaran, batagak panghulu (pengukuhan gelar adat/kaum) serta pada acara bagurau lamak (dengan kalangan pendengar terbatas, 10-15 orang). Sawir kerap diundang dalam acara-acara demikian
Sejak di perantauan Sawir sudah dikenal sebagai pendendang. Dan ketika kembali ke kampung halaman, kemampunnya berdendang tetap diteruskan. Tak hanya menyanyikan lagu-lagu dendang, Sawir juga mencipta puluhan lagu dendang yang sampai sekarang masih sering dibawakan banyak pendendang. Suntiang Patah Batikam (tahun 1970), Talago Biru (1968), Danau Mamukek (1985), Hujan Baribuik (1985), Danau Mamukek (1985), Banda Gantuang (1985), Sarasah Aia Badarun, Katangih Sudah Mimpi, dan Talempong Anam Koto adalah di antara lagu-lagu dendang ciptaan Sawir. Malereang Tabiang salah satu versi lagunya juga merupakan ciptaannya.
Sekarang, Sawir tetap berdendang bila diundang. Baik ke acara baralek, batagak pangulu, dan tampil di acara-acara yang diundang orang rantau. Sawir juga sering diundang tampil ke berbagai pertunjukan kesenian, baik di Sumatra Barat, ke berbagai daerah di Sumatra, maupun ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Tak hanya itu, bersama grup Talago Buni, pada bulan Juli 1999 Sawir pernah tampil di tujuh kota di Jerman. Di samping diundang untuk bernyanyi dan berdendang, Sawir juga diminta sebagai pembicara pada beberapa seminar tentang kesenian dan budaya tradisi.
Waktu tampil di beberapa pertunjukan dan festival internasional itulah, Sawir merasa bahwa karya seni bisa menjadi alat untuk menjalin komunikasi antarbangsa meski tak mengerti bahasanya. Melalui karya seni kita bisa mengenal karakter dan nilai-nilai yang dimiliki oleh beragam bangsa. Dan ternyata, kekayaan seni tradisi yang dimiliki Minangkabau bisa mendapat tempat penting dalam khazanah seni dunia.
Untuk itulah, bagi seorang Sawir, kekayaan seni tradisi Minang harus dipelihara, digali terus menerus dan diwariskan pada generasi berikutnya. Seni tradisi Minang memiliki keluhuran nilai-nilai yang sangat kuat berpijak pada akar kebudayaan Minang yang senantiasa mengedepankan kebaikan, budi pekerti dan kandungan estetika yang amat tinggi. Seni tradisi merupakan media untuk pendidikan adat istiadat, budaya dan agama. Lewat seni tradisi, ketinggian mutu nilai-nilat keminangkabuan tetap terpelihara dan terwariskan.
Sawir tak menolak mentah-mentah kesenian Minang kontemporer yang mencoba berkompromi dengan arus budaya populer. Namun Sawir berharap, jangan terlalu jauh menyimpang. Etika dan prinsip-prinsip adat dan budaya Minang mestinya tetap dijaga. Kalau tidak orang Minang sendiri yang menjaganya, kesenian tradisi Minang akan musnah ditelan zaman yang makin lama makin dikendalikan uang.
Kesenian Minang dalam hal ini dendang, menurut Sawir punya bahasa tersendiri untuk menyampaikan pesan. Dendang tak hanya berisikan kepiluan dan problem batin yang dialami seseorang, masyarakat maupun etnik Minang, tapi dendang juga punya idiom dan bahasa tersendiri yang mengisahkan romantika asmara dan gejolak perasaan yang dialami anak muda. Bahasa dendang amat indah, halus dan penuh dengan irama. Jauh dari kata-kata vulgar, kasar dan nuansa pornografi yang menunjukkan kerendahan. Dendang juga punya ruang untuk mengekspresikan kegembiraan yang biasa disebut bagurau. Dalam bagurau, ekspresi keriangan, kelucuan dan kejenakaan disajikan, namun tetap dengan bahasa yang santun, indah dan berpijak pada estetika yang kuat.
Bagi Sawir, dendang tak ditentukan oleh kemerduan suara sang pendendang, tapi lebih ditentukan oleh pemahaman yang kuat seorang pendendang tentang adat, budaya, agama dan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat yang kemudian disampaikan melalui lirik dan irama dendang dengan penuh perasaan dan imajinasi yang amat tinggi. Dendang juga merupakan tangisan seorang pendendang. Dalam konteks ini, seorang pendendang adalah seorang cerdik cendikia atau intelektual yang mencoba mengingatkan masyarakat dan lingkungannya.
Untuk itulah, bagi Sawir seni tradisi harus tetap digali, dikembangkan, dipelahara dan diwariskan pada generasi berikutnya. Adalah omong kosong, slogan baliak ka nagari, adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah terus digaungkan, tapi budaya dan seni tradisi diabaikan. Lembaga dan penanggung jawab kesenian harus membantu, mendorong dan memfasilitasi perkembangan kesenian tradisi. Dengan demikian, badan-badan pemerintah yang bertanggung jawab dalam bidang kesenian dan kebudayaan mesti diisi orang-orang yang memunyai kompetensi yang memadai di bidang ini. Hampir tak bisa diharapkapkan, seni dan budaya tradisi akan berjaya jika tetap dipimpin orang-orang yang salah tempat dan tak memiliki tanggung jawab.
Itulah seorang Sawir Sutan Mudo, seorang maestro dendang yang sampai sekarang tetap berdendang. Di samping berdendang, kesehariannya ia jalani dengan berdagang pakaian seken dari pekan ke pekan di sekitar danau Maninjau. Di setiap Senin malam ia juga mengisi acara dendang di RRI Bukittinggi. Namun berdagang kaki lima pada masa sekarang katanya tak lagi terlalu menguntungkan. Ekonomi masyarakat semakin sulit. Makanya, lewat lagu ciptaannya yang baru, Ratok Kaki Limo, keresahannya itu ia sampaikan.
Bagi Sawir, seni tradisi harus tetap dijaga dan diwarisi. Seni tradisi adalah penopang adat. Jika seni tradisi tetap terpelihara, akan terjaga pula adat dan budaya. Jika seni tradisi rusak, rusak pula adat. Jika adat rusak, hilang pusako dan hancurlah budaya.
Dendang dan Posisi Pedendang
Nada dasar yang dominan dalam saluang dengan dendang adalah ratok, nada-nada yang meratap. Bila pendendang bercerita soal nasib manusia, maka nasib manusia itu disimbolkan pada sesuatu dengan cerdas lewat pantun-pantun. Umumnya pendendang mewakili masyarakat marjinal.
Jadi, dalam kesenian saluang dengan dendang, yang sangat berperan sekali adalah pendendang. Dari hitungan jari sebelah tangan pendendang lelaki yang kini masih eksis, hanya ada seorang pendendang yang punya yang kuat dan terkenal di Sumatra Barat dan luar Sumatra Barat, bahkan di mancanegara, yakni Sawir Sutan Mudo.
Sawir Sutan Mudo mengaku tidak dengan serta merta menjadi terkenal. Penuh lika-liku dan perjuangan. Bermula dari anak randai (pemain teater tradisional Minangkabau) di Kotokaciak, Kabupaten Agam, pada usia 13 tahun. Saat itu, tugas yang diembannya adalah sebagai pendendang.
Tahun 1951, karena tuntutan hidup, ia merantau ke Palembang, Sumatra Selatan. Di rantau, di samping menggalas buah-buahan di kaki lima ia tetap mengembangkan kesenian tradisi. “Saya menyintai kesenian tradisi randai dan saluang jo dendang, karena pantun-pantun atau syair-syair dalam kesenian itu sangat menarik dan mengandung unsur pendidikan. Selain itu saya tertantang untuk membuat pantun-pantun yang bisa membuat penikmat kesenian tradisi itu puas dan terkesan,” kata Sawir.
Sebagai pendendang, Sawir belajar dari pengalaman, belajar dari alam: alam takambang jadi guru. Seorang pendendang, menurut dia, harus kaya bahan, kalau tidak tak akan diterima masyarakat. Dari pantun-pantun itu, ada yang berisi nasihat, perasaan hidup, dan asmara muda-mudi. Saking tersentuhnya perasaan para penikmat seni tradisi itu, sering orang menangis spontan karenanya. Itu salah satu kelebihan Sawir. Ia secara spontan mampu mengembangkan improvisasi dalam pantun. Pada sampiran dari pantun, ia selalu bisa mengolah dari lingkungan tempat ia bermain (orang, tempat),” kata Yusrizal KW, pengamat seni dan Ketua Yayasan Citra Budaya Indonesia, menilai.
Makanya jangan heran, saking cerdasnya pantun-pantun yang dibuat Sawir ini, baris-baris pantunnya sering diambil untuk inspirasi dan judul-judul lagu-lagu pop Minang dewasa ini. Bahkan ratusan pantun yang ia ciptakan kini sudah menjadi dendang-dendang tradisi, seperti antara lain “Suntiang Patah Batikam”, “Banda Guntuang”, “Hujan Baribuik”, “Danau Mamukek”, dan “Talempong Anam Koto”. (Abel Tasman, dan Tim DKSB)
Gus Tf Sakai

Gus tf Sakai mungkin adalah sastrawan Indonesia yang “rewel” dan “sulit” apabila ditanya biografinya. Selalu, ia akan balik bertanya, “Sebagai penulis puisi atau prosa?” Ia memang menulis dengan dua nama: Gus tf untuk puisi dan Gus tf Sakai untuk prosa (padahal keduanya tampak seperti tidak berbeda). Tentang dua nama ini, dalam sebuah wawancara di The Jakarta Post ia berkata pendek, “Untuk sugesti, biar keduanya serius pada masing-masingnya.” Lalu, ia akan memberikan biodata terpisah untuk setiap nama, juga sangat pendek.
Gus tf Sakai dilahirkan di Payakumbuh, Sumatra Barat, tanggal 13 Agustus 1965 dengan nama asli Gustrafizal. Ayahnya bernama Bustamam dan ibunya Ranjuna. Ayahnya yang petani meninggal ketika sastrawan ini masih kanak-kanak dan bersama sembilan saudaranya ia kemudian dibesarkan oleh ibunya yang hidup sebagai pedagang kecil dengan berjualan makanan tradisional.
SD, SMP, dan SMA ia tamatkan di Payakumbuh, kemudian melanjutkan ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, dan lulus 1994. Proses kreatifnya berkembang sejak kanak-kanak, seiring dengan kegemaran berolahraga (di antaranya sepak bola dan bela diri), yang dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian. Publikasi pertamanya berupa cerita pendek yang memenangi Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979. Sejak kemenangan itu dan ia tahu bahwa menulis dapat mendatangkan uang (yang amat membantu bagi kebutuhan sekolahnya), ia tidak lagi dapat berhenti menulis dan sering mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novelet, novel, dan esai. Seingatnya, sampai tahun 2003, ada sekitar 50 sayembara menulis yang ia menangkan, tetapi yang terdokumentasi dan dapat dicatat hanya 36. Namun, angka 36 itu pun mungkin sudah merupakan rekor yang mencengangkan.
Setelah memublikasikan karya dengan berbagai nama samaran sampai tamat SMA tahun 1985, ia pindah ke Padang dan mengambil putusan yang bagi banyak orang mungkin tidak terbayangkan: hidup dari menulis. Sejak itu pulalah, ia menggunakan dua nama: Gus tf dan Gus tf Sakai. Namun, kini terbukti keputusannya tidak keliru. Walaupun tidak dapat dikatakan berkecukupan, ia tampak sangat menikmati profesinya. Ia pun tumbuh sebagai sastrawan Indonesia yang menonjol di generasinya.
Agak aneh bahwa hampir tidak ditemukan perbincangan atau kajian terhadap karya Gus tf Sakai sehingga khazanah sastra Indonesia tidak begitu tahu bagaimana (keunggulan) karyanya. Namun, dalam berkas yang dikirimkan Panitia Indonesia, Pusat Bahasa, kepada Panitia The SEA Write Award 2004 di Bangkok, pada kolom isian Tentang diri sendiri (Awardees to write about himsef), Gus tf Sakai menulis: “… Sampai kini berusia 38 tahun ini, kadang saya merasa masih seperti 25 tahun lalu ketika pertama mulai menulis: kecil, gugup, berasal dari keluarga miskin, yang karena keterbatasan finansial dalam ketakterbatasan impian kanak-kanak jadi tumbuh dalam dunia yang paradoks dan banyak ketakmungkinan. Masih seperti itulah saya kini, barangkali. Tegangan antara keterbatasan dan ketakterbatasan telah menjelmakan saya jadi seorang pengarang kecil yang gagap, terus terobsesi untuk keluar – melintasi apa pun. Suku, agama, ras, bahkan antara yang nyata dan tak nyata.” Dari pernyataan itu mungkin dapat kita telusuri bagaimana kecenderungan karya-karya Gus tf Sakai. Hasil karyanya adalah sebagai berikut.
A. Novel
Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, Gramedia, 1990).
Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, Gramedia, 1991)
Ben (novel remaja, Gramedia, 1992)
Tambo (Sebuah Pertemuan) (Grasindo, 2000). Novel itu sedang diterjemahan dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Metafor Publishing.
Tiga Cinta, Ibu (Gramedia, 2002)
Ular Keempat (Kompas, 2005)
B. Kumpulan cerpen
Istana Ketirisan ( Balai Pustaka, 1996). Kumpulan cerpen itu berisikan 7 cerpen.
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gramedia, 1999). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen yang dikelompokkan dalam 4 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Gadisku" terdiri atas 4 cerpen, bagian kedua bertajuk "Rumah Masa Lalu" terdiri atas 3 cerpen, bagian ketiga bertajuk "Sendiri" terdiri atas 3 cerpen, dan bagian keempat bertajuk "Apatah Bisu" terdiri atas 4 cerpen. Kumpulan cerpen itu, setelah memperoleh Hadiah Sastra Lontar tahun 2001, diterbitkan oleh The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002).
Laba-Laba (Gramedia, 2003). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen.
C. Kumpulan puisi
Sangkar Daging (Grasindo, 1997). Kumpulan puisi itu berisi 60 puisi terpilih yang ditulis Gus tf sepanjang tahun 1980-1995 yang dikelompokkan dalam 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Langkah Batu" terdiri atas 33 puisi dan bagian kedua yang bertajuk "Luka Metamorfosa" terdiri atas 27 puisi.
Daging Akar (Kompas, 2005). Kumpulan puisi itu terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Daging" yang memuat 19 puisi dan bagian kedua bertajuk "Akar" yang juga memuat 19 puisi.
Beberapa puisinya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman.
Atas kreatifitasnya itu, Gus tf Sakai banyak memenangkan hadiah dan mendapatkan berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Hadiah yang dimenangkan
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Payakumbuh untuk cerpen "Usaha Kesehatan di Sekolahku" (1979)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Anita untuk cerpen "Kisah Pinokio dan Cinderella" (1985)
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet "Ngidam" (1986)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Kartini untuk cerpen "Nenek" (1986)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Tiara untuk cerpen "Tiga Pucuk Surat Buat Muhammad" (1987)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Estafet untuk cerpen "Gun" (1988)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang novel dari majalah Kartini untuk novel "Buram Berlatar Suram" (1988)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Novelet Remaja dari majalah Anita untuk novelet "Dutch Doll" (1989)
Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi "Didaktisisme Catur Lima Episode" (1989)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi "Menunggu" (1989)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Tentang Tuan Rumah dan Tamu yang Dibunuhnya" (1990)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Iqranidya Club Cilacap untuk puisi "Bola Salju" (1990)
Hadiah nomine Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Suara Merdeka untuk cerpen "Urban" (1991)
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Gadis untuk novelet "Ben" (1991)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Bali Post untuk cerpen "Sebuah Lembah Setelah Lebah Pindah" (1991)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet "Lembah Berkabut" (1991)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Aforisme Anggur" (1992)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Perkawinan Mawar" (1992)
Hadiah Ketiga Sayembara Penulisan Budaya dari Panitia Pekan Budaya Minangkabau untuk esai "Asketik, Holistik, Pradigma Modernity” (1993)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Tak Pernah Kubutuh Sebuah Telepon" (1993)
Hdiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Buletin Sastra Budaya Kreatif Batu untuk puisi "Daun yang Baik" (1994)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Yayasan Taraju Sumatra Barat untuk puisi "Seseorang dalam Lorong Bernama Zaman" (1994)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Matra untuk cerpen "Tak Ada Topeng dalam Diary" (1996)
Hadiah Kedua Sayembara Penulisan Esai dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk esai "Bentuk Budaya dalam Masyarakat Multietnik" (1996)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerber dari majalah Femina untuk novel Jilid Laki-laki untuk Ibu (1998)
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen "Lukisan Tua, Kota Lama, Lirih Tangis Setiap Senja" (1999)
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen "Sungguh Hidup Begitu Indah" (1999)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Ulat dalam Sepatu" (1999)
Hadiah Sembilan Terbaik Sayembara Penulisan Puisi Perdamaian dari Panitia Lomba Cipta Puisi Perdamaian Art and Peace untuk puisi "Peristiwa Menanam" (1999)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen "Kupu-Kupu" (1999)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Laba-Laba" (2000)
Hadiah Sepuluh Unggulan Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen "Karena Kita tak Bersuku" (2000)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Upit" (2001)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Novel Remaja dari Penerbit Mizan untuk novel Garis Lurus, Putus (2002)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Gambar Bertulisan Kereta Lebaran" (2002)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Novel dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novel Ular Keempat (2003)
Hadiah cerpen pilihan Kompas untuk cerpen yang berjudul "Belatung" (2005)
Penghargaan yang diterima
Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001)
Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002)
Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002)
Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi "Susi 2000 M" (2002)
SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004)
Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (2004).
Tahun 1996 Gus tf Sakai kembali ke Payakumbuh. Bersama istrinya, Zurniati, ia memutuskan untuk hidup dan menetap di kampungnya bersama tiga anaknya: Abyad Barokah Bodi (L), Khanza Jamalina Bodi (P), dan Kuntum Faiha Bodi (P). Walaupun menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi membuat ia dapat melintas (fisik dan nonfisik) ke mana-mana. Dari kampungnya itulah Gus tf Sakai kini terus menulis puisi, cerpen, novel, dan esai yang kemudian diterbitkan oleh penerbit dan media massa terbitan Jakarta sambil memilih-milih puisi untuk Puisi, sebuah jurnal triwulanan yang memuat segala hal yang berkaitan dengan puisi; jurnal tempat Gus tf diajak bergabung oleh Sapardi Djoko Damono sejak 2002.
Alamat: Jalan Sudirman No. 33 Balai Baru, Payakumbuh, Sumatra Barat, Indonesia 26212 Telepon: (0752) 94924
Pos-el: gustfsakai@plasa.com dan gustfsakai@yahoo.com
Dari Kupu-kupu yang Bermimpi Jadi Swang Tse dan Tambo Gus tf Sakai
OLEH FADLILLAH
ADA kehendak untuk melupakan masa lalu pada setiap orang atau bangsa ketika sejarah masa lalu begitu pahit dan tidak disukai. Kemudian kejadian itu akan berlanjut untuk menghadirkan cerita-cerita yang menghibur hati yang terluka, kekecewaan dan kepedihan, hal ini adalah feno mena tragedi patologi sosial. Hadirnya cerita untuk menghibur kekecewaan dan kepedihan adalah dikarenakan ada lara yang hendak dilipur. Dari cerita, ada lara yang dilipur itu, merupakan kehendak untuk lari ke dunia imaji saat didapati realitas begitu buruk dan menyedihkan, persoalan seperti ini adalah realitas yang manusiawi. Jika hal itu terjadi pada diri individu barangkali ia hanya merupakan suatu kasus psikologis, tetapi apabila hal itu terjadi dalam realitas kebudayaan, maka hal ini sudah jadi persoalan tragedi kemanusiaan.
Tragik kemanusiaan ini menjadi problematik dalam novel Tambo (Sebuah Pertemuan) karya Gus tf Sakai, kehadirannya adalah akibat dari sebab yang pada hari ini sudah tersembunyi. Adalah kenyataan yang sulit untuk dijelaskan tentang Rido yang bermimpi jadi Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sutan Balun), pada kenyataan itu juga (sama) Datuk Perpatih Nan Sabatang (yang ada dalam mimpi Rido itu) bermimpi menjadi Rido. Sebagaimana Swang Tse mengatakan ia bermimpi tentang kupu-kupu dan kemudian selanjutnya ia mengatakan bahwa realitas dirinya adalah mimpi dari kupu-kupu itu, tepatnya; kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse, kemudian Swang Tse berpikir dan meyakini bahwa dirinya yang sesungguhnya atau realitas sebenarnya dari dirinya adalah kupu-kupu. Swang Tse berkeyakinan kehidupannya sekarang hanyalah mimpi dari seekor kupu-kupu, karena dirinya sendiri adalah kupu-kupu itu, dan sekarang ia hanya menjalani sebuah mimpi.
Cerita tentang Swang Tse ini ditulis oleh Aart van Zoest dalam bukunya Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik, terjemahan Manoekmi Sardjoe, (1990:31). Tidak jauh berbeda persoalan ini juga diungkapkan oleh Hasif Amini dalam tulisannya di jurnal Kalam (4/1995:89,90) dengan judul Seni Baca di Perpustakaan Imajiner Jorge Luis Borges dan (Antara Lain) Sastra Fantasi. Dia mengatakan: "Dalam cerita ’Reruntuhan Melingkar’, seorang rahib pagan tua mendatangi suatu reruntuhan kuil di tengah hutan, demi ’memimpikan’ sesosok anak lelaki yang kelak akan dimasukkannya ke dalam realitas; namun di saat terakhir ketika si anak sudah jadi, mendapatkan wujud fisiknya, rahib itu mulai menyadari bahwa ia juga makhluk ilusi yang diimpikan oleh orang lain…." Borges melalui diskusi atas buku-buku kuno, di mana tak terjadi perpindahan ruang, melainkan perpindahan kognitif yang berlangsung dalam waktu. Borges secara khusus dan berulang, membahas persoalan waktu ini: "memperhadapkan waktu linear yang direkayasa dunia modern, dengan waktu sirkuler (melingkar) yang bersifat mitologis". Hal ini juga barangkali relevan dengan film Vanilla Sky yang disutradarai Cameron Crowe, film yang dirujuk dari film Spanyol berjudul Abre Los Ojos (1997). Fenomena Vanilla Sky adalah fenomena kupu-kupu Swang Tse, yakni tidak berbatasnya imajinasi dan realitas akibat penderitaan yang amat sangat, sebagaimana dimainkan oleh Tom Cruise dan Penelope Cruz.
Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) dalam TSP itu mengatakan bagaimana ia bermimpi jadi Rido, Barangkali ini berhubungan dengan pola narasi kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse. Kemudian pada bab 14, Alangkah Banyak Diriku, diceritakan tentang Rido yang tetap tidak tahu beda realitas dengan mimpi. Sebelumnya ada pernyataan yang lebih berat dari persoalan itu adalah Rido (Sakai, 2002:18) mengatakan; "Bagiku mimpi, seperti mimpi, dan kenyataan, nyaris tak ada bedanya." Artinya, Rido tidak lagi dapat membedakan dalam hidupnya antara mimpi dengan realitas hidup, antara imajinasi dan realitas hidup. Selanjutnya dalam kalimat yang sama dikatakan bahwa hal itu adalah fenomena kehidupannya; "… Sering aku tak tahu apakah tengah berada dalam mimpi, ataukah tengah dalam kenyataan." Rido meyakini dirinya adalah Sutan Balun atau Datuk Perpatih Nan Sabatang, dia meyakini dirinya banyak, sebagaimana dikemukakan dalam bab 14 Alangkah Banyak Diriku, (Sakai, 2000:100). Jika disamakan dengan Swang Tse, maka Swang Tse yakin dirinya adalah kupu-kupu, dan realitasnya sebagai Swang Tse dalam alam mimpi kupu-kupu. Jika kupu-kupu berhenti bermimpi, maka ia (Swang Tse) yakin akan kembali ke alamnya yang bahagia itu, yakni alam kupu-kupu. Rido juga menunggu lewat si Tukang Kaba hal itu bertahun-tahun dan terus menunggu.
Narasi seperti ini sulit dipahami, tetapi bila ia diletakkan sebagai fenomena metafora atau hakikat kehidupan, maka ia merupakan narasi yang menyembunyikan sesuatu. Dengan demikian akan muncul sesuatu itu, yakni pertanyaan yang sederhana, mengapa hal itu terjadi, dan mengapa begitu? Fenomena Rido tersebut tidak mungkin terjadi begitu saja, ada satu sebab (atau beberapa sebab, banyak sebab) yang mengakibat Rido menjadi suatu fenomena. Adapun perlunya dicari sebab, karena fenomena Rido hanya dianggap sebagai akibat. Tidak mungkin penyebabnya adalah suatu realitas yang menyenangkan dan bahagia, karena jika realitas penyebabnya sesuatu yang baik, menyenangkan, bahagia, maka tentu akan mengakibatkan terjadinya kebaikan dan bahagia, dapat dipahami, serta persoalan menjadi selesai, tidak lagi suatu hal yang problemtis. Fenomena Rido sebagai narasi bukanlah suatu bentuk kebahagiaan, tetapi suatu narasi problematis yang tragis, cerita sedih. Dengan demikian, pada akhirnya fenomena Rido tentu disebabkan oleh suatu penderitaan, sistem yang buruk, kesedihan yang tidak terleraikan, yang menekannya. Ada dua dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa fenomena Rido tersebut disebabkan oleh adanya narasi tragik yang terjadi.
Pertama, ketika pertanyaan itu dirujuk kepada pemikiran tulisan Pariaman (Brouwer,1984:228), maka apa yang terjadi pada Rido adalah gejala split of personality, dan memang novel ini pada mulanya berjudul Sakit, tetapi menurut Sakai adanya negosiasi dengan redaksi harian Republika (ketika novel ini akan dimuat bersambung di harian itu, sebelum diterbitkan, ungkapan pengarang kepada penulis) dan penerbit Grasindo, maka novel ini akhirnya berjudul Tambo (Sebuah Pertemuan). Fenomena split of personality ini timbul, menurut Pariaman (Brouwer,1984:202) merupakan reaksi terhadap sistem ganda kehidupan yang terlalu berat untuk dihadapi. Pendapat ini barangkali sejalan dengan cerita tentang Sybil karya Schreiber (2001:489-490), yang juga mengungkapkan bahwa keterpecahan kepribadian karena sistem ganda yang terlalu berat untuk dihadapi. Tetapi fenomena yang dihadirkan di sini di samping akibat sistem ganda yang lebih berat adalah dimungkinkan oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri.
Kedua, dapat dirujuk sebab mengapa Swang Tse meyakini bahwa dunia nyata dirinya adalah kupu-kupu, dan dirinya hanyalah mimpi dari kupu-kupu, dikarenakan ia mengalami penderitaan dan kesedihan yang tidak terleraikan, yakni istri dan anaknya meninggal, ia tidak bisa menerima atau tidak kuat menerima realitas kesedihan itu, di samping selama ini hidupnya memang menderita dan puncaknya adalah kematian istrinya, sehingga ia pada satu kali bermimpi, dalam mimpinya itu ia menjadi kupu-kupu dan berkumpul dengan anak- anak dan istrinya, terbang sebagai kupu-kupu dalam taman bunga yang indah dan bahagia. Ketika ia terbangun, ia yakin bahwa realitas yang sesungguhnya dari dirinya adalah kupu-kupu, dirinya sebagai Swang Tse hanyalah mimpi buruk dari kupu-kupu. Sebuah narasi tragik dari tragedi kehidupan. Fenomena kupu-kupu Swang Tse disebabkan oleh tragik penderitaan, yang pada hakikatnya memungkinkan juga terjadi pada tragik kesedihan dari diri Rido.
Tragik yang terjadi pada Rido sebagai sebab, pertama oleh sistem ganda sosial budaya dan kedua oleh kesedihan dan penderitaan dan ketiga oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri. Pada sebab pertama menurut Pariaman (Brouwer,1984:208) jarang menjadi penyebab utama, ia hanya menjadi landasan sebagai pencetusan. Namun pengaruh yang kuat memang ada pada sistem sosial yang membesarkan seseorang, sistem nilai yang dianut. Rido dibesarkan oleh sistem rumah gadang yang otoritasnya dikuasai oleh nenek tertua dan mamak laki-laki (saudara laki-laki dari ibu) tertua, ia dibesarkan oleh keluarga ibu, sistem membuat ia berjarak dengan ayahnya. Sistem budaya ini memungkinkan untuk tumbuhnya kompleks mother (kompleks ibu) sebagaimana dikatakan Pariaman (Brouwer,1984:215), dan ini terjadi pada Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sakai, 2000:69-70). Anak laki-laki dalam sistem sosial Minangkabau setelah akil balig (umur tujuh tahun) harus berpisah dengan ibunya dan tidur di surau, sedangkan masa remajanya dihabiskan di gelanggang, kemudian masa dewasanya di perantauan, ketika berkeluarga ia hanya dapat pulang ke rumah istri pada malam hari (tetapi Rido belum beristri, juga Datuk Perpatih Nan Sabatang), terakhir di masa tua kembali ke surau. Sistem sosial ini yang membuat laki-laki tidak pernah punya kamar pribadi, dalam pengertian lain laki-laki Minangkabau merupakan laki-laki rantau (tidak menetap selalu bepergian). Di samping itu sistem sosial budaya yang dihidupi tersebut bersifat ganda. Pertama, pada satu sisi secara adat tradisi ia dihidupi oleh sistem matrilineal dan di sisi agama ia dihadapkan dengan sistem patrilineal. Kedua, laras Bodi Chaniago dengan laras Koto Piliang mempunyai sistem yang berlawanan, yakni sistem Bodi Chaniago bersistem demokrat dengan Koto Piliang bersistem otokrat. Ketiga, keluarga ayah dengan keluarga ibu, keluarga ibu dengan keluarga istri, yang masing-masing dengan sistem yang berbeda.
Namun pada akhirnya persoalan penyebab bukanlah sesuatu yang pasti, ia akan menunjukkan banyak sebab, dan banyak kemungkinan, dan lebih banyak hal baru yang dapat ditemukan dan dipahami. Sebagai novel ia memang akan membukakan pemikiran ke arah itu, mendorong orang untuk bertualang dalam dunia kemungkinan dan dunia mungkin. Ada fenomena cerita dari dua tokoh yang saling bermimpi lebih merupakan persoalan yang lebih memungkinkan banyak alternatif yang akan ditemukan. Paling tidak ada fenomena tokoh yang ganda, dalam pengertian lain juga suatu fenomena berkepribadian ganda, suatu fenomena tokoh yang tidak terintegrasi dalam satu kepribadian, terbelah berserpihan menjadi banyak kepribadian, banyak cerita. Hakikat yang dihadirkannya adalah persoalan identitas jati diri yang hancur, tepatnya persoalan eksistensi yang berserakan.
Persoalan hakikat jati diri ini, atau eksistensi, persoalan apakah Rido yang bermimpi jadi Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang), atau apakah Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) yang bermimpi jadi Rido. Akan tetapi ketika hal ini dibawakan kepada filosofi Buddha, maka ia merupakan kupu-kupu yang bermimpi menjadi Swang Tse, karena pada sisi lain Adityawarman dalam rujukan sejarah merupakan penganut Buddha Bhairawa, dan Minangkabau sebelum Islam adalah bangsa yang beragama Hindu Buddha. Filosofi Swang Tse juga akan berhubungan dengan hakikat reinkarnasi yang sudah hilang di Minangkabau. Persoalan itu tidak berhenti sampai di sini, hal itu hanya rujukan untuk realitas narasi hari ini, karena novel TSP adalah karya sastra dengan kekinian Indonesia, hadir dalam konsep selera estetika multikultural Indonesia. Dalam bahasa pemikiran hari ini, maka TSP berbicara tentang hakikat keterpecahan identitas kepribadian dan ketidakjelasan eksistensi diri manusia Indonesia hari ini dalam konteks banyak bangsa yang tertindas oleh penguasa Indonesia.
Keterpecahan kepribadian atau eksistensi Indonesia hari ini, dan pencarian pada masa lalu, pada narasi mitos, sejarah, dan tradisi, adalah kesia-siaan. Memang realitas itu sudah dilakukan pada masa rezim Soekarno dan rezim Orde Baru, memparadigmakan kebudayaan masa lalu sebagai narasi kebudayaan luhur. Pada satu sisi menjadi membelakangi masa depan dan menghadap ke masa lalu. Kemudian hiduplah kembali neofeodalisme yang tidak lebih kentalnya daripada feodalisme di zaman Kerajaan Singosari, Kediri, Majapahit, Mataram, Sriwijaya, Pagaruyung. Neofeodalisme itu mendapat sambutan yang cocok dengan kebudayaan kapitalisme modern. Pada akhirnya rakyat tetap tertindas, miskin, dan menderita, dan sesudah itu karena dalam ketertindasan, penderitaan, dan kesedihan orang akan lari ke dunia cerita, narasi pelarian (apakah narasi kupu-kupu atau narasi Datuk Perpatih Nan Sabatang), maka lahirlah banyak cerita yang dapat melipur lara. ***
SUMBER KOMPAS, Minggu, 04 Mei 2003
Fadlillah Mahasiswa pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana,Denpasar, staf pengajar
Rabu 13 Juni 2007
Melintas dari Sudut Kota Kecil
OLEH IVAN ADILLA, staf pengajar Fak Sastra Unand
Guf tf (Payakumbuh, 13 Agustus 1965) adalah penyair, cerpenis dan novelis. Sastrawan dengan nama asli Gustafrizal Busra ini menjalani pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya, Payakumbuh. Ia kemudian melanjutkan studi di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, dan tamat pada 1994. Ia memutuskan untuk menjalani profesi sebagai pengarang dan menetap di Payakumbuh. Dia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya di Padang, Jakarta serta beberapa kota lain.
Pengarang ini menggunakan dua nama yang berbeda untuk dua genre karyanya; untuk karya prosa ia menggunakan Gus tf Sakai, sedangkan untuk karya puisi ia mencantumkan nama Gus tf, sementara nama aslinya hanya dipakai untuk dokumen-dokumen resmi.
Sebagai pengarang, Gus telah meraih banyak penghargaan atas karya-karyanya. Sejak 1985-1999, 2 novel, 7 novelet dan 14 cerita pendeknya memenangkan hadiah dan penghargaan dalam sejumlah sayembara penulisan yang diselenggarakan oleh berbagai media, seperti Femina, Gadis, Matra, Hai, juga Pusat Kajian Humaniora-UNP serta beberapa lembaga lainnya. Pada 1996 ia meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, dan Hadiah Sastra Lontar diperolehnya tahun 2001. Pada tahun 2004, dalam usia 39 tahun, Gus meraih SEA Write Award, hadiah sastra untuk pengarang di negara-negara ASEAN. Tahun 2005 Gus dijadwalkan untuk mengikuti International Writing Program di The University of Iowa, Amerika Serikat, tetapi kemudian dibatalkan dengan alasan yang kurang jelas. Informasi yang sampai padanya adalah, “Washington belum bisa menerima Anda tahun ini, mungkin pada kesempatan yang lain”.
Gus mulai menulis saat duduk di sekolah dasar pada usia 13 tahun. Karyanya yang telah dipublikasikan berupa sajak, cerpen, novelet dan novel. Sajak-sajak awalnya banyak dimuat di majalah Hai (Jakarta), Ruang Kebudayaan koran Singgalang dan Haluan (Padang), sedangkan prosanya berupa cerita pendek dan novelet diterbitkan pada majalah Gadis, Femina, Matra, dan Hai. Cerpen dan sajaknya kemudian dipublikasikan melalui berbagai surat kabar seperti Republika, Kompas, Media Indonesia, The Jakarta Post, Berita Buana, Suara Karya, Pelita, Mutiara, juga majalah Horison, Kalam, Jurnal Puisi dan Ulumul Quran. Beberapa karya Gus telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Arab, dan Portugis.
Beberapa prosanya telah dibukukan. Novel remaja yang merupakan karya awalnya adalah Segi Empat patah Sisi (Jakarta: Gramedia, 1991), Segitiga Lepas Kaki (Jakarta: Gramedia, 1991), Ben (Jakarta: Gramedia, 1992). Novelnya yang telah dibukukan Tambo (Sebuah Pertemuan) (Jakarta:Grasindo,2000). Antologi cerpennya yang pertama adalah Istana Ketirisan (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), sedangkan antologi cerpennya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999) meraih hadiah Sastra Lontar 2001 dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, The Barber and Other Short Stories (Jakarta: The Lontar Foundation). Beberapa cerpennya juga dimuat dalam antologi bersama, di antaranya dalam beberapa nomor cerpen pilihan Kompas. Beberapa noveletnya diterbitkan dalam antologi, Tiga Cinta, Ibu ( Jakarta: Gramedia).
Kekuatan Gus tf Sakai sebagai penulis prosa terlihat sejak dari beberapa novel remaja dan noveletnya dipublikasikan. Karya awal itu memperlihatkan kesungguhan dan nuansa yang berbeda dari kecenderungan umumnya cerita remaja yang melankolis dan cair. Melalui teknik bercerita yang mengalir ia menyusupkan perenungan menuju ke pendalaman makna kisah. Karyanya yang kemudian menarik perhatian pengamat karena kemampuan bahasa, tema yang dipilih serta teknik penceritaannya. Cerpen-cerpennya merupakan perpaduan antara bahasa puitik dengan teknik penceritaan yang terjaga. Bahasanya efektif, padat serta dipenuhi monolog batin. Ceritanya bergerak melintasi wilayah geografis, gender, sosial dan budaya dengan deskripsi yang detil terhadap aspek visual dan batin tokoh-tokohnya. Cerita dibangun dalam alur yang mengalir dan menggugah rasa ingin tahun pembaca.
Sebagian sajaknya dibukukan dalam Sangkar Daging (Jakarta: Grasindo,1997), sedangkan yang lainnya tersebar dalam berbagari antologi bersama yang diterbitkan oleh berbagai lembaga dan organisasi kesenian. Gus merupakan penyair termuda yang karyanya dimuat dalam buku Ketika Kata, Ketika Warna (Jakarta: Yayasan Ananda), sebuah buku yang menghimpun 50 karya penyair Indonesia sejak dari Hamzah Fansuri. Kekuatan sajak Gus tf adalah pada kandungan paradoks dan metaforanya yang efektif dan fungsional. Melalui sajak-sajaknya ia mendeksripsikan paradoks yang dipikirkannya, sehingga sajaknya ibarat medan dialog tentang masalah yang diungkapkannya. Secara persuasif ia mendesak pembaca untuk masuk dan mengalami peristiwa yang ia sajikan dalam sajaknya. Teknik seperti itu mengajak pembaca untuk menyadari dan memberikan kesadaran, bukan pemahaman.
Karya terbarunya, Laba-laba (Jakarta:Gramedia), Daging Akar (Jakarta: Penerbit Buku Kompas) dan Ular Keempat (Jakarta: Penerbit Buku Kompas).
Gus tf Sakai dilahirkan di Payakumbuh, Sumatra Barat, tanggal 13 Agustus 1965 dengan nama asli Gustrafizal. Ayahnya bernama Bustamam dan ibunya Ranjuna. Ayahnya yang petani meninggal ketika sastrawan ini masih kanak-kanak dan bersama sembilan saudaranya ia kemudian dibesarkan oleh ibunya yang hidup sebagai pedagang kecil dengan berjualan makanan tradisional.
SD, SMP, dan SMA ia tamatkan di Payakumbuh, kemudian melanjutkan ke Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Padang, dan lulus 1994. Proses kreatifnya berkembang sejak kanak-kanak, seiring dengan kegemaran berolahraga (di antaranya sepak bola dan bela diri), yang dimulai dari menggambar, lalu menulis puisi dan esai di buku harian. Publikasi pertamanya berupa cerita pendek yang memenangi Hadiah I sebuah sayembara ketika ia duduk di bangku kelas 6 SD tahun 1979. Sejak kemenangan itu dan ia tahu bahwa menulis dapat mendatangkan uang (yang amat membantu bagi kebutuhan sekolahnya), ia tidak lagi dapat berhenti menulis dan sering mengikuti sayembara menulis puisi, cerpen, novelet, novel, dan esai. Seingatnya, sampai tahun 2003, ada sekitar 50 sayembara menulis yang ia menangkan, tetapi yang terdokumentasi dan dapat dicatat hanya 36. Namun, angka 36 itu pun mungkin sudah merupakan rekor yang mencengangkan.
Setelah memublikasikan karya dengan berbagai nama samaran sampai tamat SMA tahun 1985, ia pindah ke Padang dan mengambil putusan yang bagi banyak orang mungkin tidak terbayangkan: hidup dari menulis. Sejak itu pulalah, ia menggunakan dua nama: Gus tf dan Gus tf Sakai. Namun, kini terbukti keputusannya tidak keliru. Walaupun tidak dapat dikatakan berkecukupan, ia tampak sangat menikmati profesinya. Ia pun tumbuh sebagai sastrawan Indonesia yang menonjol di generasinya.
Agak aneh bahwa hampir tidak ditemukan perbincangan atau kajian terhadap karya Gus tf Sakai sehingga khazanah sastra Indonesia tidak begitu tahu bagaimana (keunggulan) karyanya. Namun, dalam berkas yang dikirimkan Panitia Indonesia, Pusat Bahasa, kepada Panitia The SEA Write Award 2004 di Bangkok, pada kolom isian Tentang diri sendiri (Awardees to write about himsef), Gus tf Sakai menulis: “… Sampai kini berusia 38 tahun ini, kadang saya merasa masih seperti 25 tahun lalu ketika pertama mulai menulis: kecil, gugup, berasal dari keluarga miskin, yang karena keterbatasan finansial dalam ketakterbatasan impian kanak-kanak jadi tumbuh dalam dunia yang paradoks dan banyak ketakmungkinan. Masih seperti itulah saya kini, barangkali. Tegangan antara keterbatasan dan ketakterbatasan telah menjelmakan saya jadi seorang pengarang kecil yang gagap, terus terobsesi untuk keluar – melintasi apa pun. Suku, agama, ras, bahkan antara yang nyata dan tak nyata.” Dari pernyataan itu mungkin dapat kita telusuri bagaimana kecenderungan karya-karya Gus tf Sakai. Hasil karyanya adalah sebagai berikut.
A. Novel
Segi Empat Patah Sisi (novel remaja, Gramedia, 1990).
Segitiga Lepas Kaki (novel remaja, Gramedia, 1991)
Ben (novel remaja, Gramedia, 1992)
Tambo (Sebuah Pertemuan) (Grasindo, 2000). Novel itu sedang diterjemahan dalam bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Metafor Publishing.
Tiga Cinta, Ibu (Gramedia, 2002)
Ular Keempat (Kompas, 2005)
B. Kumpulan cerpen
Istana Ketirisan ( Balai Pustaka, 1996). Kumpulan cerpen itu berisikan 7 cerpen.
Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Gramedia, 1999). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen yang dikelompokkan dalam 4 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Gadisku" terdiri atas 4 cerpen, bagian kedua bertajuk "Rumah Masa Lalu" terdiri atas 3 cerpen, bagian ketiga bertajuk "Sendiri" terdiri atas 3 cerpen, dan bagian keempat bertajuk "Apatah Bisu" terdiri atas 4 cerpen. Kumpulan cerpen itu, setelah memperoleh Hadiah Sastra Lontar tahun 2001, diterbitkan oleh The Lontar Foundation dalam bahasa Inggris dengan judul The Barber and Other Short Stories (2002).
Laba-Laba (Gramedia, 2003). Kumpulan cerpen itu berisi 14 cerpen.
C. Kumpulan puisi
Sangkar Daging (Grasindo, 1997). Kumpulan puisi itu berisi 60 puisi terpilih yang ditulis Gus tf sepanjang tahun 1980-1995 yang dikelompokkan dalam 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Langkah Batu" terdiri atas 33 puisi dan bagian kedua yang bertajuk "Luka Metamorfosa" terdiri atas 27 puisi.
Daging Akar (Kompas, 2005). Kumpulan puisi itu terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian pertama bertajuk "Daging" yang memuat 19 puisi dan bagian kedua bertajuk "Akar" yang juga memuat 19 puisi.
Beberapa puisinya itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Inggris, dan Jerman.
Atas kreatifitasnya itu, Gus tf Sakai banyak memenangkan hadiah dan mendapatkan berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri.
Hadiah yang dimenangkan
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Payakumbuh untuk cerpen "Usaha Kesehatan di Sekolahku" (1979)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Anita untuk cerpen "Kisah Pinokio dan Cinderella" (1985)
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet "Ngidam" (1986)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Kartini untuk cerpen "Nenek" (1986)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Tiara untuk cerpen "Tiga Pucuk Surat Buat Muhammad" (1987)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Cerpen dari majalah Estafet untuk cerpen "Gun" (1988)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang novel dari majalah Kartini untuk novel "Buram Berlatar Suram" (1988)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Novelet Remaja dari majalah Anita untuk novelet "Dutch Doll" (1989)
Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi "Didaktisisme Catur Lima Episode" (1989)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Penulisan Puisi dari Direktorat Kesenian Ditjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk puisi "Menunggu" (1989)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Tentang Tuan Rumah dan Tamu yang Dibunuhnya" (1990)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Iqranidya Club Cilacap untuk puisi "Bola Salju" (1990)
Hadiah nomine Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Suara Merdeka untuk cerpen "Urban" (1991)
Hadiah Pertama Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Gadis untuk novelet "Ben" (1991)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Cerpen dari harian Bali Post untuk cerpen "Sebuah Lembah Setelah Lebah Pindah" (1991)
Hadiah Ketiga Sayembara Mengarang Novelet dari majalah Kartini untuk novelet "Lembah Berkabut" (1991)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Aforisme Anggur" (1992)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Perkawinan Mawar" (1992)
Hadiah Ketiga Sayembara Penulisan Budaya dari Panitia Pekan Budaya Minangkabau untuk esai "Asketik, Holistik, Pradigma Modernity” (1993)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Sanggar Minum Kopi Bali untuk puisi "Tak Pernah Kubutuh Sebuah Telepon" (1993)
Hdiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Buletin Sastra Budaya Kreatif Batu untuk puisi "Daun yang Baik" (1994)
Hadiah Sepuluh Terbaik Sayembara Penulisan Puisi dari Yayasan Taraju Sumatra Barat untuk puisi "Seseorang dalam Lorong Bernama Zaman" (1994)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerpen Remaja dari majalah Matra untuk cerpen "Tak Ada Topeng dalam Diary" (1996)
Hadiah Kedua Sayembara Penulisan Esai dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia untuk esai "Bentuk Budaya dalam Masyarakat Multietnik" (1996)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Cerber dari majalah Femina untuk novel Jilid Laki-laki untuk Ibu (1998)
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen "Lukisan Tua, Kota Lama, Lirih Tangis Setiap Senja" (1999)
Hadiah nomine Cerpen Terbaik di Koran-koran Indonesia 1998 dari Dewan Kesenian Jakarta untuk cerpen "Sungguh Hidup Begitu Indah" (1999)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Ulat dalam Sepatu" (1999)
Hadiah Sembilan Terbaik Sayembara Penulisan Puisi Perdamaian dari Panitia Lomba Cipta Puisi Perdamaian Art and Peace untuk puisi "Peristiwa Menanam" (1999)
Hadiah Kedua Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen "Kupu-Kupu" (1999)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Laba-Laba" (2000)
Hadiah Sepuluh Unggulan Sayembara Mengarang Cerpen dari Pusat Kajian Humaniora Universitas Negeri Padang dan Program Bahasa Indonesia Universitas Deakin, Melbourne, Australia untuk cerpen "Karena Kita tak Bersuku" (2000)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Upit" (2001)
Hadiah Harapan Sayembara Mengarang Novel Remaja dari Penerbit Mizan untuk novel Garis Lurus, Putus (2002)
Hadiah cerpen pilihan dari harian Kompas untuk cerpen "Gambar Bertulisan Kereta Lebaran" (2002)
Hadiah Harapan Pertama Sayembara Mengarang Novel dari Dewan Kesenian Jakarta untuk novel Ular Keempat (2003)
Hadiah cerpen pilihan Kompas untuk cerpen yang berjudul "Belatung" (2005)
Penghargaan yang diterima
Penghargaan Sastra Lontar dari Yayasan Lontar untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2001)
Anugerah Sastra dari Fakultas Sastra Universitas Andalas (2002)
Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2002)
Sih Award dari Jurnal Puisi untuk puisi "Susi 2000 M" (2002)
SEA Write Award dari Kerajaan Thailand untuk kumpulan cerpen Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (2004)
Anugerah Seni dari Komunitas Penggiat Sastra Padang dan Dewan Kesenian Sumatra Barat (2004).
Tahun 1996 Gus tf Sakai kembali ke Payakumbuh. Bersama istrinya, Zurniati, ia memutuskan untuk hidup dan menetap di kampungnya bersama tiga anaknya: Abyad Barokah Bodi (L), Khanza Jamalina Bodi (P), dan Kuntum Faiha Bodi (P). Walaupun menetap di kota kecil yang dikepung oleh tiga gunung, kemajuan teknologi membuat ia dapat melintas (fisik dan nonfisik) ke mana-mana. Dari kampungnya itulah Gus tf Sakai kini terus menulis puisi, cerpen, novel, dan esai yang kemudian diterbitkan oleh penerbit dan media massa terbitan Jakarta sambil memilih-milih puisi untuk Puisi, sebuah jurnal triwulanan yang memuat segala hal yang berkaitan dengan puisi; jurnal tempat Gus tf diajak bergabung oleh Sapardi Djoko Damono sejak 2002.
Alamat: Jalan Sudirman No. 33 Balai Baru, Payakumbuh, Sumatra Barat, Indonesia 26212 Telepon: (0752) 94924
Pos-el: gustfsakai@plasa.com dan gustfsakai@yahoo.com
Dari Kupu-kupu yang Bermimpi Jadi Swang Tse dan Tambo Gus tf Sakai
OLEH FADLILLAH
ADA kehendak untuk melupakan masa lalu pada setiap orang atau bangsa ketika sejarah masa lalu begitu pahit dan tidak disukai. Kemudian kejadian itu akan berlanjut untuk menghadirkan cerita-cerita yang menghibur hati yang terluka, kekecewaan dan kepedihan, hal ini adalah feno mena tragedi patologi sosial. Hadirnya cerita untuk menghibur kekecewaan dan kepedihan adalah dikarenakan ada lara yang hendak dilipur. Dari cerita, ada lara yang dilipur itu, merupakan kehendak untuk lari ke dunia imaji saat didapati realitas begitu buruk dan menyedihkan, persoalan seperti ini adalah realitas yang manusiawi. Jika hal itu terjadi pada diri individu barangkali ia hanya merupakan suatu kasus psikologis, tetapi apabila hal itu terjadi dalam realitas kebudayaan, maka hal ini sudah jadi persoalan tragedi kemanusiaan.
Tragik kemanusiaan ini menjadi problematik dalam novel Tambo (Sebuah Pertemuan) karya Gus tf Sakai, kehadirannya adalah akibat dari sebab yang pada hari ini sudah tersembunyi. Adalah kenyataan yang sulit untuk dijelaskan tentang Rido yang bermimpi jadi Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sutan Balun), pada kenyataan itu juga (sama) Datuk Perpatih Nan Sabatang (yang ada dalam mimpi Rido itu) bermimpi menjadi Rido. Sebagaimana Swang Tse mengatakan ia bermimpi tentang kupu-kupu dan kemudian selanjutnya ia mengatakan bahwa realitas dirinya adalah mimpi dari kupu-kupu itu, tepatnya; kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse, kemudian Swang Tse berpikir dan meyakini bahwa dirinya yang sesungguhnya atau realitas sebenarnya dari dirinya adalah kupu-kupu. Swang Tse berkeyakinan kehidupannya sekarang hanyalah mimpi dari seekor kupu-kupu, karena dirinya sendiri adalah kupu-kupu itu, dan sekarang ia hanya menjalani sebuah mimpi.
Cerita tentang Swang Tse ini ditulis oleh Aart van Zoest dalam bukunya Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik, terjemahan Manoekmi Sardjoe, (1990:31). Tidak jauh berbeda persoalan ini juga diungkapkan oleh Hasif Amini dalam tulisannya di jurnal Kalam (4/1995:89,90) dengan judul Seni Baca di Perpustakaan Imajiner Jorge Luis Borges dan (Antara Lain) Sastra Fantasi. Dia mengatakan: "Dalam cerita ’Reruntuhan Melingkar’, seorang rahib pagan tua mendatangi suatu reruntuhan kuil di tengah hutan, demi ’memimpikan’ sesosok anak lelaki yang kelak akan dimasukkannya ke dalam realitas; namun di saat terakhir ketika si anak sudah jadi, mendapatkan wujud fisiknya, rahib itu mulai menyadari bahwa ia juga makhluk ilusi yang diimpikan oleh orang lain…." Borges melalui diskusi atas buku-buku kuno, di mana tak terjadi perpindahan ruang, melainkan perpindahan kognitif yang berlangsung dalam waktu. Borges secara khusus dan berulang, membahas persoalan waktu ini: "memperhadapkan waktu linear yang direkayasa dunia modern, dengan waktu sirkuler (melingkar) yang bersifat mitologis". Hal ini juga barangkali relevan dengan film Vanilla Sky yang disutradarai Cameron Crowe, film yang dirujuk dari film Spanyol berjudul Abre Los Ojos (1997). Fenomena Vanilla Sky adalah fenomena kupu-kupu Swang Tse, yakni tidak berbatasnya imajinasi dan realitas akibat penderitaan yang amat sangat, sebagaimana dimainkan oleh Tom Cruise dan Penelope Cruz.
Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) dalam TSP itu mengatakan bagaimana ia bermimpi jadi Rido, Barangkali ini berhubungan dengan pola narasi kupu-kupu yang bermimpi jadi Swang Tse. Kemudian pada bab 14, Alangkah Banyak Diriku, diceritakan tentang Rido yang tetap tidak tahu beda realitas dengan mimpi. Sebelumnya ada pernyataan yang lebih berat dari persoalan itu adalah Rido (Sakai, 2002:18) mengatakan; "Bagiku mimpi, seperti mimpi, dan kenyataan, nyaris tak ada bedanya." Artinya, Rido tidak lagi dapat membedakan dalam hidupnya antara mimpi dengan realitas hidup, antara imajinasi dan realitas hidup. Selanjutnya dalam kalimat yang sama dikatakan bahwa hal itu adalah fenomena kehidupannya; "… Sering aku tak tahu apakah tengah berada dalam mimpi, ataukah tengah dalam kenyataan." Rido meyakini dirinya adalah Sutan Balun atau Datuk Perpatih Nan Sabatang, dia meyakini dirinya banyak, sebagaimana dikemukakan dalam bab 14 Alangkah Banyak Diriku, (Sakai, 2000:100). Jika disamakan dengan Swang Tse, maka Swang Tse yakin dirinya adalah kupu-kupu, dan realitasnya sebagai Swang Tse dalam alam mimpi kupu-kupu. Jika kupu-kupu berhenti bermimpi, maka ia (Swang Tse) yakin akan kembali ke alamnya yang bahagia itu, yakni alam kupu-kupu. Rido juga menunggu lewat si Tukang Kaba hal itu bertahun-tahun dan terus menunggu.
Narasi seperti ini sulit dipahami, tetapi bila ia diletakkan sebagai fenomena metafora atau hakikat kehidupan, maka ia merupakan narasi yang menyembunyikan sesuatu. Dengan demikian akan muncul sesuatu itu, yakni pertanyaan yang sederhana, mengapa hal itu terjadi, dan mengapa begitu? Fenomena Rido tersebut tidak mungkin terjadi begitu saja, ada satu sebab (atau beberapa sebab, banyak sebab) yang mengakibat Rido menjadi suatu fenomena. Adapun perlunya dicari sebab, karena fenomena Rido hanya dianggap sebagai akibat. Tidak mungkin penyebabnya adalah suatu realitas yang menyenangkan dan bahagia, karena jika realitas penyebabnya sesuatu yang baik, menyenangkan, bahagia, maka tentu akan mengakibatkan terjadinya kebaikan dan bahagia, dapat dipahami, serta persoalan menjadi selesai, tidak lagi suatu hal yang problemtis. Fenomena Rido sebagai narasi bukanlah suatu bentuk kebahagiaan, tetapi suatu narasi problematis yang tragis, cerita sedih. Dengan demikian, pada akhirnya fenomena Rido tentu disebabkan oleh suatu penderitaan, sistem yang buruk, kesedihan yang tidak terleraikan, yang menekannya. Ada dua dasar pemikiran untuk mengatakan bahwa fenomena Rido tersebut disebabkan oleh adanya narasi tragik yang terjadi.
Pertama, ketika pertanyaan itu dirujuk kepada pemikiran tulisan Pariaman (Brouwer,1984:228), maka apa yang terjadi pada Rido adalah gejala split of personality, dan memang novel ini pada mulanya berjudul Sakit, tetapi menurut Sakai adanya negosiasi dengan redaksi harian Republika (ketika novel ini akan dimuat bersambung di harian itu, sebelum diterbitkan, ungkapan pengarang kepada penulis) dan penerbit Grasindo, maka novel ini akhirnya berjudul Tambo (Sebuah Pertemuan). Fenomena split of personality ini timbul, menurut Pariaman (Brouwer,1984:202) merupakan reaksi terhadap sistem ganda kehidupan yang terlalu berat untuk dihadapi. Pendapat ini barangkali sejalan dengan cerita tentang Sybil karya Schreiber (2001:489-490), yang juga mengungkapkan bahwa keterpecahan kepribadian karena sistem ganda yang terlalu berat untuk dihadapi. Tetapi fenomena yang dihadirkan di sini di samping akibat sistem ganda yang lebih berat adalah dimungkinkan oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri.
Kedua, dapat dirujuk sebab mengapa Swang Tse meyakini bahwa dunia nyata dirinya adalah kupu-kupu, dan dirinya hanyalah mimpi dari kupu-kupu, dikarenakan ia mengalami penderitaan dan kesedihan yang tidak terleraikan, yakni istri dan anaknya meninggal, ia tidak bisa menerima atau tidak kuat menerima realitas kesedihan itu, di samping selama ini hidupnya memang menderita dan puncaknya adalah kematian istrinya, sehingga ia pada satu kali bermimpi, dalam mimpinya itu ia menjadi kupu-kupu dan berkumpul dengan anak- anak dan istrinya, terbang sebagai kupu-kupu dalam taman bunga yang indah dan bahagia. Ketika ia terbangun, ia yakin bahwa realitas yang sesungguhnya dari dirinya adalah kupu-kupu, dirinya sebagai Swang Tse hanyalah mimpi buruk dari kupu-kupu. Sebuah narasi tragik dari tragedi kehidupan. Fenomena kupu-kupu Swang Tse disebabkan oleh tragik penderitaan, yang pada hakikatnya memungkinkan juga terjadi pada tragik kesedihan dari diri Rido.
Tragik yang terjadi pada Rido sebagai sebab, pertama oleh sistem ganda sosial budaya dan kedua oleh kesedihan dan penderitaan dan ketiga oleh penindasan kekuasaan dan kehancuran jati diri. Pada sebab pertama menurut Pariaman (Brouwer,1984:208) jarang menjadi penyebab utama, ia hanya menjadi landasan sebagai pencetusan. Namun pengaruh yang kuat memang ada pada sistem sosial yang membesarkan seseorang, sistem nilai yang dianut. Rido dibesarkan oleh sistem rumah gadang yang otoritasnya dikuasai oleh nenek tertua dan mamak laki-laki (saudara laki-laki dari ibu) tertua, ia dibesarkan oleh keluarga ibu, sistem membuat ia berjarak dengan ayahnya. Sistem budaya ini memungkinkan untuk tumbuhnya kompleks mother (kompleks ibu) sebagaimana dikatakan Pariaman (Brouwer,1984:215), dan ini terjadi pada Datuk Perpatih Nan Sabatang (Sakai, 2000:69-70). Anak laki-laki dalam sistem sosial Minangkabau setelah akil balig (umur tujuh tahun) harus berpisah dengan ibunya dan tidur di surau, sedangkan masa remajanya dihabiskan di gelanggang, kemudian masa dewasanya di perantauan, ketika berkeluarga ia hanya dapat pulang ke rumah istri pada malam hari (tetapi Rido belum beristri, juga Datuk Perpatih Nan Sabatang), terakhir di masa tua kembali ke surau. Sistem sosial ini yang membuat laki-laki tidak pernah punya kamar pribadi, dalam pengertian lain laki-laki Minangkabau merupakan laki-laki rantau (tidak menetap selalu bepergian). Di samping itu sistem sosial budaya yang dihidupi tersebut bersifat ganda. Pertama, pada satu sisi secara adat tradisi ia dihidupi oleh sistem matrilineal dan di sisi agama ia dihadapkan dengan sistem patrilineal. Kedua, laras Bodi Chaniago dengan laras Koto Piliang mempunyai sistem yang berlawanan, yakni sistem Bodi Chaniago bersistem demokrat dengan Koto Piliang bersistem otokrat. Ketiga, keluarga ayah dengan keluarga ibu, keluarga ibu dengan keluarga istri, yang masing-masing dengan sistem yang berbeda.
Namun pada akhirnya persoalan penyebab bukanlah sesuatu yang pasti, ia akan menunjukkan banyak sebab, dan banyak kemungkinan, dan lebih banyak hal baru yang dapat ditemukan dan dipahami. Sebagai novel ia memang akan membukakan pemikiran ke arah itu, mendorong orang untuk bertualang dalam dunia kemungkinan dan dunia mungkin. Ada fenomena cerita dari dua tokoh yang saling bermimpi lebih merupakan persoalan yang lebih memungkinkan banyak alternatif yang akan ditemukan. Paling tidak ada fenomena tokoh yang ganda, dalam pengertian lain juga suatu fenomena berkepribadian ganda, suatu fenomena tokoh yang tidak terintegrasi dalam satu kepribadian, terbelah berserpihan menjadi banyak kepribadian, banyak cerita. Hakikat yang dihadirkannya adalah persoalan identitas jati diri yang hancur, tepatnya persoalan eksistensi yang berserakan.
Persoalan hakikat jati diri ini, atau eksistensi, persoalan apakah Rido yang bermimpi jadi Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang), atau apakah Sutan Balun (Datuk Perpatih Nan Sabatang) yang bermimpi jadi Rido. Akan tetapi ketika hal ini dibawakan kepada filosofi Buddha, maka ia merupakan kupu-kupu yang bermimpi menjadi Swang Tse, karena pada sisi lain Adityawarman dalam rujukan sejarah merupakan penganut Buddha Bhairawa, dan Minangkabau sebelum Islam adalah bangsa yang beragama Hindu Buddha. Filosofi Swang Tse juga akan berhubungan dengan hakikat reinkarnasi yang sudah hilang di Minangkabau. Persoalan itu tidak berhenti sampai di sini, hal itu hanya rujukan untuk realitas narasi hari ini, karena novel TSP adalah karya sastra dengan kekinian Indonesia, hadir dalam konsep selera estetika multikultural Indonesia. Dalam bahasa pemikiran hari ini, maka TSP berbicara tentang hakikat keterpecahan identitas kepribadian dan ketidakjelasan eksistensi diri manusia Indonesia hari ini dalam konteks banyak bangsa yang tertindas oleh penguasa Indonesia.
Keterpecahan kepribadian atau eksistensi Indonesia hari ini, dan pencarian pada masa lalu, pada narasi mitos, sejarah, dan tradisi, adalah kesia-siaan. Memang realitas itu sudah dilakukan pada masa rezim Soekarno dan rezim Orde Baru, memparadigmakan kebudayaan masa lalu sebagai narasi kebudayaan luhur. Pada satu sisi menjadi membelakangi masa depan dan menghadap ke masa lalu. Kemudian hiduplah kembali neofeodalisme yang tidak lebih kentalnya daripada feodalisme di zaman Kerajaan Singosari, Kediri, Majapahit, Mataram, Sriwijaya, Pagaruyung. Neofeodalisme itu mendapat sambutan yang cocok dengan kebudayaan kapitalisme modern. Pada akhirnya rakyat tetap tertindas, miskin, dan menderita, dan sesudah itu karena dalam ketertindasan, penderitaan, dan kesedihan orang akan lari ke dunia cerita, narasi pelarian (apakah narasi kupu-kupu atau narasi Datuk Perpatih Nan Sabatang), maka lahirlah banyak cerita yang dapat melipur lara. ***
SUMBER KOMPAS, Minggu, 04 Mei 2003
Fadlillah Mahasiswa pascasarjana Kajian Budaya Universitas Udayana,Denpasar, staf pengajar
Rabu 13 Juni 2007
Melintas dari Sudut Kota Kecil
OLEH IVAN ADILLA, staf pengajar Fak Sastra Unand
Guf tf (Payakumbuh, 13 Agustus 1965) adalah penyair, cerpenis dan novelis. Sastrawan dengan nama asli Gustafrizal Busra ini menjalani pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya, Payakumbuh. Ia kemudian melanjutkan studi di Fakultas Peternakan Universitas Andalas, dan tamat pada 1994. Ia memutuskan untuk menjalani profesi sebagai pengarang dan menetap di Payakumbuh. Dia sering diundang untuk membacakan sajak-sajaknya di Padang, Jakarta serta beberapa kota lain.
Pengarang ini menggunakan dua nama yang berbeda untuk dua genre karyanya; untuk karya prosa ia menggunakan Gus tf Sakai, sedangkan untuk karya puisi ia mencantumkan nama Gus tf, sementara nama aslinya hanya dipakai untuk dokumen-dokumen resmi.
Sebagai pengarang, Gus telah meraih banyak penghargaan atas karya-karyanya. Sejak 1985-1999, 2 novel, 7 novelet dan 14 cerita pendeknya memenangkan hadiah dan penghargaan dalam sejumlah sayembara penulisan yang diselenggarakan oleh berbagai media, seperti Femina, Gadis, Matra, Hai, juga Pusat Kajian Humaniora-UNP serta beberapa lembaga lainnya. Pada 1996 ia meraih penghargaan dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Jakarta, dan Hadiah Sastra Lontar diperolehnya tahun 2001. Pada tahun 2004, dalam usia 39 tahun, Gus meraih SEA Write Award, hadiah sastra untuk pengarang di negara-negara ASEAN. Tahun 2005 Gus dijadwalkan untuk mengikuti International Writing Program di The University of Iowa, Amerika Serikat, tetapi kemudian dibatalkan dengan alasan yang kurang jelas. Informasi yang sampai padanya adalah, “Washington belum bisa menerima Anda tahun ini, mungkin pada kesempatan yang lain”.
Gus mulai menulis saat duduk di sekolah dasar pada usia 13 tahun. Karyanya yang telah dipublikasikan berupa sajak, cerpen, novelet dan novel. Sajak-sajak awalnya banyak dimuat di majalah Hai (Jakarta), Ruang Kebudayaan koran Singgalang dan Haluan (Padang), sedangkan prosanya berupa cerita pendek dan novelet diterbitkan pada majalah Gadis, Femina, Matra, dan Hai. Cerpen dan sajaknya kemudian dipublikasikan melalui berbagai surat kabar seperti Republika, Kompas, Media Indonesia, The Jakarta Post, Berita Buana, Suara Karya, Pelita, Mutiara, juga majalah Horison, Kalam, Jurnal Puisi dan Ulumul Quran. Beberapa karya Gus telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, Arab, dan Portugis.
Beberapa prosanya telah dibukukan. Novel remaja yang merupakan karya awalnya adalah Segi Empat patah Sisi (Jakarta: Gramedia, 1991), Segitiga Lepas Kaki (Jakarta: Gramedia, 1991), Ben (Jakarta: Gramedia, 1992). Novelnya yang telah dibukukan Tambo (Sebuah Pertemuan) (Jakarta:Grasindo,2000). Antologi cerpennya yang pertama adalah Istana Ketirisan (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), sedangkan antologi cerpennya Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999) meraih hadiah Sastra Lontar 2001 dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris, The Barber and Other Short Stories (Jakarta: The Lontar Foundation). Beberapa cerpennya juga dimuat dalam antologi bersama, di antaranya dalam beberapa nomor cerpen pilihan Kompas. Beberapa noveletnya diterbitkan dalam antologi, Tiga Cinta, Ibu ( Jakarta: Gramedia).
Kekuatan Gus tf Sakai sebagai penulis prosa terlihat sejak dari beberapa novel remaja dan noveletnya dipublikasikan. Karya awal itu memperlihatkan kesungguhan dan nuansa yang berbeda dari kecenderungan umumnya cerita remaja yang melankolis dan cair. Melalui teknik bercerita yang mengalir ia menyusupkan perenungan menuju ke pendalaman makna kisah. Karyanya yang kemudian menarik perhatian pengamat karena kemampuan bahasa, tema yang dipilih serta teknik penceritaannya. Cerpen-cerpennya merupakan perpaduan antara bahasa puitik dengan teknik penceritaan yang terjaga. Bahasanya efektif, padat serta dipenuhi monolog batin. Ceritanya bergerak melintasi wilayah geografis, gender, sosial dan budaya dengan deskripsi yang detil terhadap aspek visual dan batin tokoh-tokohnya. Cerita dibangun dalam alur yang mengalir dan menggugah rasa ingin tahun pembaca.
Sebagian sajaknya dibukukan dalam Sangkar Daging (Jakarta: Grasindo,1997), sedangkan yang lainnya tersebar dalam berbagari antologi bersama yang diterbitkan oleh berbagai lembaga dan organisasi kesenian. Gus merupakan penyair termuda yang karyanya dimuat dalam buku Ketika Kata, Ketika Warna (Jakarta: Yayasan Ananda), sebuah buku yang menghimpun 50 karya penyair Indonesia sejak dari Hamzah Fansuri. Kekuatan sajak Gus tf adalah pada kandungan paradoks dan metaforanya yang efektif dan fungsional. Melalui sajak-sajaknya ia mendeksripsikan paradoks yang dipikirkannya, sehingga sajaknya ibarat medan dialog tentang masalah yang diungkapkannya. Secara persuasif ia mendesak pembaca untuk masuk dan mengalami peristiwa yang ia sajikan dalam sajaknya. Teknik seperti itu mengajak pembaca untuk menyadari dan memberikan kesadaran, bukan pemahaman.
Karya terbarunya, Laba-laba (Jakarta:Gramedia), Daging Akar (Jakarta: Penerbit Buku Kompas) dan Ular Keempat (Jakarta: Penerbit Buku Kompas).
Minggu, 13 Januari 2008
Fahmi Idris
Dipecat Golkar, Jadi Menteri
Setelah lebih setahun menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabinet Indonesia Bersatu, politisi dari Partai Golkar ini dipercaya menjabat Menteri Perindustrian menggantikan Andung A. Nitimihardja, pada reshuffle kabinet yang diumumkan 5 Desember 2005 dan dilantik 7 Desember 2005.
Pria kelahiran Gang Kenari, Jakarta Pusat, 20 September 1943, ini sempat dipecat dari keanggotaan dan kepengurusan DPP Partai Golkar, akibat aktivitasnya mendukung SBY-JK menjelang Pilpres putaran kedua. Dia memprakarsai Forum Pembaharuan Partai Golkar dan menentang Koalisi Kebangsaan (hasil Rapim Partai Golkar) yang mendukung Mega-Hasyim.
Namun setelah pasangan SBY-JK terpilih jadi Presiden dan Wakil Presiden, Fahmi diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kemudian setelah Jusuf Kalla terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar, keanggotaannya di Golkar dipulihkan dan diangkat jadi Anggota Dewan Penasehat DPP Partai Golkar.
Mantan Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII ini di kala kecil dikenal bengal -- senang menantang teman-temannya berkelahi. Kala itu dia bercita-cita menjadi tentara. Pengagum Jenderal De Gaulle itu sangat tertarik melihat kegagahan dan sikap heroik tentara. Cita-cita itu tidak tercapai. Dia malah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tapi tidak rampung. Namun sikap heroiknya terasa tersalurkan ketika dia turut ambil bagian menggusur Orde Lama, 1966. Mantan Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966), ini tidak merampungkan kuliah ekonominya di Universitas Indonesia untuk merintis usaha. Bakat wiraswastanya menurun dari ayahandanya Haji Idris gelar Marah Bagindo, seorang pedagang. Walaupun kemudian dia melanjutkan studinya ke Fakultas Ekonomi Extension UI dan pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973).Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968), ini memulai berusaha bersama rekan-rekan eksponen 66. Mereka mendirikan PT Kwarta Daya Pratama, 1969. Kemudian aktif dalam 10 perusahaan. Di antaranya, PT Kodel (Kelompok Delapan), bersama Soegeng Sarjadi, Ponco Nugro Sutowo, Jan Darmadi, dan Aburizal Bakrie, bergerak di bidang perdagangan, industri dan investasi. menantu KH Hasan Basri, ini juga menjadi direktur di PT Krama Yudha, baik perusahaan patungan mobil dengan Jepang maupun divisi kawat las yang bekerja sama dengan Philips dari Negeri Belanda.Perusahaan lainnya adalah PT Parama Bina Tani, PT Delta Santana, PT Wahana Muda Indonesia, PT Dharma Muda Pratama, PT Ujung Lima, dan CV Pasti. Perusahaan-perusahaan tersebut membidangi usaha agrokimia, perlengkapan industri minyak dan gas bumi, konstruksi dan rekayasa untuk pabrik metanol di Bunyu, pergudangan dan muatan, dan transpor.Kemudian suami dari Kartini Hasan Basri, psikolog di RS Cipto Mangunkusumo, ini berkiprah dalam politik praktis. Pada 3 Maret 1984, bersama sejumlah eksponen 66, bekas tokoh HMI ini meneken pernyataan masuk Golkar, langsung di hadapan ketua umumnya, Sudharmono. Dia memilih Golkar, karena dia melihat adanya aspek kemanusiaan yang menampung semua persamaan pikiran dan hobi di Golkar.
TKI Ilegal
Seusai serah terima jabatan dari Jacob Nuwa Wea di Kantor Depnakertrans, Jakarta, Kamis (21/10/2004), Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Fahmi Idris menegaskan segera membentuk tim khusus untuk menangani pemulangan sekitar 700.000 TKI ilegal dari Malaysia. Pemulangan TKI ilegal dari Malaysia, menurut Fahmi, menjadi salah satu prioritas kerjanya. "Saya sudah bicarakan soal TKI ilegal itu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika dipanggil sebelum ditetapkan menjadi Mennakertrans (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi)," katanya.Fahmi juga mengatakan, untuk meningkatkan kinerja di lingkungan Depnakertrans, ia akan berkoordinasi dengan seluruh jajarannya. Setelah itu, dia akan melakukan pembicaraan dengan berbagai pihak menyangkut pemberian tunjangan hari raya, pemutusan hubungan kerja, dan soal penempatan TKI ke luar negeri.Secara bergantian Fahmi berencana mengundang pengusaha, serikat pekerja, empat organisasi perusahaan jasa TKI (PJTKI), serta lembaga swadaya masyarakat.Sebagai program 100 hari, Fahmi juga akan mempelajari Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 yang menuai banyak protes dari pekerja karena dinilai terlalu memihak kepentingan dunia usaha. Seperti pasal yang mengatur pengunduran diri dari perusahaan tidak mendapat uang pesangon kecuali kebijakan dari perusahaan tersebut pekerja itu sudah memiliki masa kerja lama. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Nama :Fahmi Idris
Lahir :Jakarta, 20 September 1943
Agama :Islam
Isteri:Kartini Hasan Basri
Pendidikan :
-SD, Jakarta (1956)
-SLP, Jakarta (1959)
-SLA, Jakarta (1962)
-Fakultas Ekonomi UI, Jakarta (1962 tidak selesai)
-Melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Extension UI
-Pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973) -LPPM, Jakarta dan Lembaga Managemen FE UI
Karir :
-Direktur CV Pasti (1967-1968)
-Direktur PT Ujung Lima (1968-1969)
-Presiden PT Kwarta Daya Pratama (sejak 1969)
-Manajer Utama PT Krama Yudha (1973-1976)
-Direktur PT Krama Yudha (sejak 1976)
-Wakil Presiden PT Parama Bina Tani (sejak 1980)
-Direktur PT Dharma Muda Pratama (sejak 1981)
-Wakil Ketua PT Wahana Muda Indonesia (sejak 1983)
-Ketua PT Delta Santana (sejak 1984)
-Presiden PT Kodel (sejak 1979)
-Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII
Kegiatan lain:
-Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966)
-Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968)
-Anggota DPRGR (1966-1968)
Alamat Rumah :
Jalan Duren Tiga VII No. 4, Jakarta Selatan
Sumber :
Pusat Data E-TI dan PDAT
Setelah lebih setahun menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabinet Indonesia Bersatu, politisi dari Partai Golkar ini dipercaya menjabat Menteri Perindustrian menggantikan Andung A. Nitimihardja, pada reshuffle kabinet yang diumumkan 5 Desember 2005 dan dilantik 7 Desember 2005.
Pria kelahiran Gang Kenari, Jakarta Pusat, 20 September 1943, ini sempat dipecat dari keanggotaan dan kepengurusan DPP Partai Golkar, akibat aktivitasnya mendukung SBY-JK menjelang Pilpres putaran kedua. Dia memprakarsai Forum Pembaharuan Partai Golkar dan menentang Koalisi Kebangsaan (hasil Rapim Partai Golkar) yang mendukung Mega-Hasyim.
Namun setelah pasangan SBY-JK terpilih jadi Presiden dan Wakil Presiden, Fahmi diangkat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kemudian setelah Jusuf Kalla terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar, keanggotaannya di Golkar dipulihkan dan diangkat jadi Anggota Dewan Penasehat DPP Partai Golkar.
Mantan Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII ini di kala kecil dikenal bengal -- senang menantang teman-temannya berkelahi. Kala itu dia bercita-cita menjadi tentara. Pengagum Jenderal De Gaulle itu sangat tertarik melihat kegagahan dan sikap heroik tentara. Cita-cita itu tidak tercapai. Dia malah kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tapi tidak rampung. Namun sikap heroiknya terasa tersalurkan ketika dia turut ambil bagian menggusur Orde Lama, 1966. Mantan Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966), ini tidak merampungkan kuliah ekonominya di Universitas Indonesia untuk merintis usaha. Bakat wiraswastanya menurun dari ayahandanya Haji Idris gelar Marah Bagindo, seorang pedagang. Walaupun kemudian dia melanjutkan studinya ke Fakultas Ekonomi Extension UI dan pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973).Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968), ini memulai berusaha bersama rekan-rekan eksponen 66. Mereka mendirikan PT Kwarta Daya Pratama, 1969. Kemudian aktif dalam 10 perusahaan. Di antaranya, PT Kodel (Kelompok Delapan), bersama Soegeng Sarjadi, Ponco Nugro Sutowo, Jan Darmadi, dan Aburizal Bakrie, bergerak di bidang perdagangan, industri dan investasi. menantu KH Hasan Basri, ini juga menjadi direktur di PT Krama Yudha, baik perusahaan patungan mobil dengan Jepang maupun divisi kawat las yang bekerja sama dengan Philips dari Negeri Belanda.Perusahaan lainnya adalah PT Parama Bina Tani, PT Delta Santana, PT Wahana Muda Indonesia, PT Dharma Muda Pratama, PT Ujung Lima, dan CV Pasti. Perusahaan-perusahaan tersebut membidangi usaha agrokimia, perlengkapan industri minyak dan gas bumi, konstruksi dan rekayasa untuk pabrik metanol di Bunyu, pergudangan dan muatan, dan transpor.Kemudian suami dari Kartini Hasan Basri, psikolog di RS Cipto Mangunkusumo, ini berkiprah dalam politik praktis. Pada 3 Maret 1984, bersama sejumlah eksponen 66, bekas tokoh HMI ini meneken pernyataan masuk Golkar, langsung di hadapan ketua umumnya, Sudharmono. Dia memilih Golkar, karena dia melihat adanya aspek kemanusiaan yang menampung semua persamaan pikiran dan hobi di Golkar.
TKI Ilegal
Seusai serah terima jabatan dari Jacob Nuwa Wea di Kantor Depnakertrans, Jakarta, Kamis (21/10/2004), Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Fahmi Idris menegaskan segera membentuk tim khusus untuk menangani pemulangan sekitar 700.000 TKI ilegal dari Malaysia. Pemulangan TKI ilegal dari Malaysia, menurut Fahmi, menjadi salah satu prioritas kerjanya. "Saya sudah bicarakan soal TKI ilegal itu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika dipanggil sebelum ditetapkan menjadi Mennakertrans (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi)," katanya.Fahmi juga mengatakan, untuk meningkatkan kinerja di lingkungan Depnakertrans, ia akan berkoordinasi dengan seluruh jajarannya. Setelah itu, dia akan melakukan pembicaraan dengan berbagai pihak menyangkut pemberian tunjangan hari raya, pemutusan hubungan kerja, dan soal penempatan TKI ke luar negeri.Secara bergantian Fahmi berencana mengundang pengusaha, serikat pekerja, empat organisasi perusahaan jasa TKI (PJTKI), serta lembaga swadaya masyarakat.Sebagai program 100 hari, Fahmi juga akan mempelajari Undang-Undang Ketenagakerjaan No 13 Tahun 2003 yang menuai banyak protes dari pekerja karena dinilai terlalu memihak kepentingan dunia usaha. Seperti pasal yang mengatur pengunduran diri dari perusahaan tidak mendapat uang pesangon kecuali kebijakan dari perusahaan tersebut pekerja itu sudah memiliki masa kerja lama. ►tsl
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Nama :Fahmi Idris
Lahir :Jakarta, 20 September 1943
Agama :Islam
Isteri:Kartini Hasan Basri
Pendidikan :
-SD, Jakarta (1956)
-SLP, Jakarta (1959)
-SLA, Jakarta (1962)
-Fakultas Ekonomi UI, Jakarta (1962 tidak selesai)
-Melanjutkan ke Fakultas Ekonomi Extension UI
-Pendidikan Financial Management for Non-Financial Manager (1973) -LPPM, Jakarta dan Lembaga Managemen FE UI
Karir :
-Direktur CV Pasti (1967-1968)
-Direktur PT Ujung Lima (1968-1969)
-Presiden PT Kwarta Daya Pratama (sejak 1969)
-Manajer Utama PT Krama Yudha (1973-1976)
-Direktur PT Krama Yudha (sejak 1976)
-Wakil Presiden PT Parama Bina Tani (sejak 1980)
-Direktur PT Dharma Muda Pratama (sejak 1981)
-Wakil Ketua PT Wahana Muda Indonesia (sejak 1983)
-Ketua PT Delta Santana (sejak 1984)
-Presiden PT Kodel (sejak 1979)
-Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VII
Kegiatan lain:
-Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI (1965-1966)
-Ketua Laskar Arief Rachman Hakim (1966-1968)
-Anggota DPRGR (1966-1968)
Alamat Rumah :
Jalan Duren Tiga VII No. 4, Jakarta Selatan
Sumber :
Pusat Data E-TI dan PDAT
Bustanil Arifin

Kisah Anak Gaul Jadi Menteri
Bustanil Arifin, mantan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog (1983-1993), dikenal sangat akrab dengan wartawan. Dia tak segan-segan merogoh kantong 'mentraktir' di mana pun dia ketemu wartawan. Tatkala aktif sebagai menteri, dia juga tidak segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka bakan saat berkunjung ke daerah. Masa kecil pria berambut tipis kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925, ini tampaknya sangat mempengaruhi kebiasaan gaulnya. Saat kecil, dia anak gaul dan tergolong nakal. Satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara, itu sering kali berkelahi.
Suatu ketika, Bustanil kecil berkelahi dengan anak yang badannya lebih besar. Tentu saja dia kalah. Lawannya yang berbadan besar itu dengan gampang mengangkat tubuhnya, lalu mengempaskan dan tergores kawat berduri. Bagian dalam lengan Bustanil sobek 10 cm yang berbekas hingga hari tuanya.
Maka ketika, anak dan cucunya suka berkelahi, dia pun memaklumi bahkan senang melihatnya. Ayah empat anak ini menyukai suasana keceriaan bersama anak-anak dan cucunya. Bahkan saat aktif sebagai Menteri Koperasi, Bustanil sering membawa cucu berkunjung ke daerah. Dia tidak segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka. Soal kesenangan bagi-bagi rejeki dan 'mentraktir' wartawan dan siapa saja, tampaknya terbawa dari pengalaman kecilnya jua. Ayahnya, Achmad Idris, seorang pemborong. Ketika ayahnya memperoleh banyak untung, Bustanil sering memperoleh berbagai macam hadiah, berupa mainan dan alat keperluan sekolah. Tetapi, manakala sang Ayah merugi, harus sabar tidak mendapat apa-apa. Bahkan, barang-barang, termasuk rumah, pernah terpaksa dijual. Mantan Dirut PT PP Berdikari ini mengecap pendidikan HIS (1940) dan MULO (1942) di Medan. Dia menyukai pelajaran sejarah, terutama tentang tokoh-tokoh dunia. 'Dia senang menimba pengalaman para tokoh itu. Dia mengagumi Indira Gandhi, Margaret Thatcher, dan HM Soeharto.
Dia mengaku banyak belajar dari Pak Harto. Bukan hanya masalah kepemimpinan yanbg timba dari Pak Harto, juga perihal menjaga kesehatan badan dan jiwa. Supaya bisa tenang menghadapi berbagai persoalan. Ketika pendudukan Jepang, saat Bustanil masih 18 tahun, dia ingin mewujudkan cita-citanya menjadi perwira militer. Dia mengikuti latihan militer di Batusangkar, Sumatera Barat. Lalu, sebentar dia ke Aceh, menjadi guru pada Sekolah Pegawai Tinggi. Dia memberi pelajaran kemiliteran. Setelah mengikuti latihan militer itu dan lulus tes bakat dengan hasil baik, Bustanil terpilih menjadi salah seorang prajurit yang akan disekolahkan ke Akademi Militer di Tokyo, 1944. Namun karena Jepang bertekuk lutut pada Amerika Serikat pada Perang Dunia II, Bustanil urung ke Jepang. Lalu dia mengikuti pendidikan khusus tiga bulan di Aceh. Sehingga harapannya menjadi perwira terkabul pada 1946. Dia langsung diterjunkan ke front Medan Area, sebagai komandan peleton. Tergabung dalam Batalyon 3 Resimen Istimewa Medan Area, Sumatera Utara. Setelah itu, karir militernya terus menanjak. Terakhir ia berpangkat letjen (purnawirawan).
Teman seperjuangannya ketika berjuang di Binjai, antara lain, Amran Zamzami, pernah menjabat Direktur PT Krama Yudha dan Ketua Gabsi (bridge) dan Rachman Ramly, pernah menjabat Dirut PT Timah dan Dirut Pertamina.
Seusai perang, Bustanil yang haus ilmu menyempatkan diri kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, hingga meraih gelar sarjana hukum. Ketika masih mahasiswa tingkat I, Bustanil berkenalan dengan R.A. Suhardani, siswa kelas III SGKP, seorang gadis cantik keturunan Jawa. Tak mau berlama-lama, setahun kemudian, mereka menikah. Keluarga ini dikaruniai emapat anak. Isterinya, yang akrab dipanggil Ibu Dani, aktif sebagai Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia.
Bustanil menjabat Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946), Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948) dan Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956). Kemudian dipercaya menjabat Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961) dan Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969).
Kemudian dia ditugaskan menjabat Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972) sebelum diangkat menjabat Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983) dan Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983). Kemudian dia diangkat menjabat Menteri Muda Urusan Koperasi merangkap Kepala Bulog (1978-1983), Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988) dan Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993).Selain itu, Bustanil juga aktif sebagai Deputi Ketua TMII (1974), Bendahara Yayasan Dharmais (1975), Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978) dan Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978). Juga Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982) dan Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981). ►e-ti/mlp, dari berbagai sumber, di antaranya pdat.*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
Nama:Bustanil Arifin
Lahir:Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925
Agama:Islam
Isteri:R.A. Suhardani
Anak:Empat Orang
Ayah:Achmad Idris
Pendidikan:
- HIS, Medan (1940)
- MULO, Medan (1942)
- Fakultas Hukum Unpad, Bandung (1959)
- Sekolah Pegawai Tinggi, Batusangkar (1944)
- Kupalda Unifikasi I, Cimahi (1963)
Karir:
- Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946)
- Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948)
- Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956)
- Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961)
- Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969)
- Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972)
- Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983)
- Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983)
- Menteri Muda Urusan Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan III(1978 -- 1983)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993)
Kegiatan Lain:
- Deputi Ketua TMII (1974)
- Bendahara Yayasan Dharmais (1975)
- Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978)
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978)
- Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982)
- Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981)
Alamat Rumah:
Jalan Hang Tuah VII/2, Jakarta Selatan Telp: 771550
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bustanil-arifin/index.shtml
Bustanil Arifin, mantan Menteri Koperasi dan Kepala Bulog (1983-1993), dikenal sangat akrab dengan wartawan. Dia tak segan-segan merogoh kantong 'mentraktir' di mana pun dia ketemu wartawan. Tatkala aktif sebagai menteri, dia juga tidak segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka bakan saat berkunjung ke daerah. Masa kecil pria berambut tipis kelahiran Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925, ini tampaknya sangat mempengaruhi kebiasaan gaulnya. Saat kecil, dia anak gaul dan tergolong nakal. Satu-satunya lelaki dari tiga bersaudara, itu sering kali berkelahi.
Suatu ketika, Bustanil kecil berkelahi dengan anak yang badannya lebih besar. Tentu saja dia kalah. Lawannya yang berbadan besar itu dengan gampang mengangkat tubuhnya, lalu mengempaskan dan tergores kawat berduri. Bagian dalam lengan Bustanil sobek 10 cm yang berbekas hingga hari tuanya.
Maka ketika, anak dan cucunya suka berkelahi, dia pun memaklumi bahkan senang melihatnya. Ayah empat anak ini menyukai suasana keceriaan bersama anak-anak dan cucunya. Bahkan saat aktif sebagai Menteri Koperasi, Bustanil sering membawa cucu berkunjung ke daerah. Dia tidak segan membawa cucu ke tempat-tempat umum yang terbuka. Soal kesenangan bagi-bagi rejeki dan 'mentraktir' wartawan dan siapa saja, tampaknya terbawa dari pengalaman kecilnya jua. Ayahnya, Achmad Idris, seorang pemborong. Ketika ayahnya memperoleh banyak untung, Bustanil sering memperoleh berbagai macam hadiah, berupa mainan dan alat keperluan sekolah. Tetapi, manakala sang Ayah merugi, harus sabar tidak mendapat apa-apa. Bahkan, barang-barang, termasuk rumah, pernah terpaksa dijual. Mantan Dirut PT PP Berdikari ini mengecap pendidikan HIS (1940) dan MULO (1942) di Medan. Dia menyukai pelajaran sejarah, terutama tentang tokoh-tokoh dunia. 'Dia senang menimba pengalaman para tokoh itu. Dia mengagumi Indira Gandhi, Margaret Thatcher, dan HM Soeharto.
Dia mengaku banyak belajar dari Pak Harto. Bukan hanya masalah kepemimpinan yanbg timba dari Pak Harto, juga perihal menjaga kesehatan badan dan jiwa. Supaya bisa tenang menghadapi berbagai persoalan. Ketika pendudukan Jepang, saat Bustanil masih 18 tahun, dia ingin mewujudkan cita-citanya menjadi perwira militer. Dia mengikuti latihan militer di Batusangkar, Sumatera Barat. Lalu, sebentar dia ke Aceh, menjadi guru pada Sekolah Pegawai Tinggi. Dia memberi pelajaran kemiliteran. Setelah mengikuti latihan militer itu dan lulus tes bakat dengan hasil baik, Bustanil terpilih menjadi salah seorang prajurit yang akan disekolahkan ke Akademi Militer di Tokyo, 1944. Namun karena Jepang bertekuk lutut pada Amerika Serikat pada Perang Dunia II, Bustanil urung ke Jepang. Lalu dia mengikuti pendidikan khusus tiga bulan di Aceh. Sehingga harapannya menjadi perwira terkabul pada 1946. Dia langsung diterjunkan ke front Medan Area, sebagai komandan peleton. Tergabung dalam Batalyon 3 Resimen Istimewa Medan Area, Sumatera Utara. Setelah itu, karir militernya terus menanjak. Terakhir ia berpangkat letjen (purnawirawan).
Teman seperjuangannya ketika berjuang di Binjai, antara lain, Amran Zamzami, pernah menjabat Direktur PT Krama Yudha dan Ketua Gabsi (bridge) dan Rachman Ramly, pernah menjabat Dirut PT Timah dan Dirut Pertamina.
Seusai perang, Bustanil yang haus ilmu menyempatkan diri kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, Bandung, hingga meraih gelar sarjana hukum. Ketika masih mahasiswa tingkat I, Bustanil berkenalan dengan R.A. Suhardani, siswa kelas III SGKP, seorang gadis cantik keturunan Jawa. Tak mau berlama-lama, setahun kemudian, mereka menikah. Keluarga ini dikaruniai emapat anak. Isterinya, yang akrab dipanggil Ibu Dani, aktif sebagai Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia.
Bustanil menjabat Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946), Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948) dan Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956). Kemudian dipercaya menjabat Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961) dan Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969).
Kemudian dia ditugaskan menjabat Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972) sebelum diangkat menjabat Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983) dan Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983). Kemudian dia diangkat menjabat Menteri Muda Urusan Koperasi merangkap Kepala Bulog (1978-1983), Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988) dan Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993).Selain itu, Bustanil juga aktif sebagai Deputi Ketua TMII (1974), Bendahara Yayasan Dharmais (1975), Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978) dan Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978). Juga Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982) dan Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981). ►e-ti/mlp, dari berbagai sumber, di antaranya pdat.*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia
Nama:Bustanil Arifin
Lahir:Padangpanjang, Sumatera Barat, 10 Oktober 1925
Agama:Islam
Isteri:R.A. Suhardani
Anak:Empat Orang
Ayah:Achmad Idris
Pendidikan:
- HIS, Medan (1940)
- MULO, Medan (1942)
- Fakultas Hukum Unpad, Bandung (1959)
- Sekolah Pegawai Tinggi, Batusangkar (1944)
- Kupalda Unifikasi I, Cimahi (1963)
Karir:
- Danton Inf. Div. Gajah I di Medan Area (1946)
- Danki Inf. 22 Div. Gajah I di Lhok Seumawe, Aceh (1948)
- Biro Pengajaran PPPLAD (merangkap guru) di Cimahi (1956)
- Kabag Personalia & Pendidikan Palad di Jakarta (1961)
- Deputi Pengadaan & Penyaluran Bulog di Jakarta (1969)
- Konsul Jenderal RI di New York, AS (1972)
- Kepala Badan Urusan Logistik di Jakarta (1973 -1983)
- Dirut PT PP Berdikari di Jakarta (1973 -1983)
- Menteri Muda Urusan Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan III(1978 -- 1983)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983-21 Maret 1988)
- Menteri Koperasi/Kepala Bulog Kabinet Pembangunan V (21 Maret 1988-17 Maret 1993)
Kegiatan Lain:
- Deputi Ketua TMII (1974)
- Bendahara Yayasan Dharmais (1975)
- Anggota Dewan Penyantun Yayasan Jantung Indonesia (1978)
- Anggota Dewan Penyantun Universitas Padjadjaran (1978)
- Ketua Yayasan Pendidikan Koperasi (1982)
- Ketua Yayasan Pengembangan Manajemen Indonesia (1981)
Alamat Rumah:
Jalan Hang Tuah VII/2, Jakarta Selatan Telp: 771550
http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/b/bustanil-arifin/index.shtml
Langganan:
Postingan (Atom)